Senja terlihat malu-malu menunjukkan kerinduannya tuk bertemu sang malam...emang suasana sore tadi terlihat sedikit mendung memayungi sebagian besar wilayah surabaya,bahkan beberapa wilayah diguyur hujan ringan...
Sore tadi sepulang kerja aq mampir kerumah Paklek/Om begitu aq memangilnya dia adik ipar ibuku...
Kududuk di teras dpn rumahnya sambil ngobrol kesana kemari,tiba-tiba pandanganku tertuju kepada dua 'bekupon' (rmh merpati dlm bahasa jawa),terlihat sebuah romantisme sepasang merpati aq pun tersenyum melihat bahasa tubuhnya...
Paklek ku ini hobby memelihara merpati tp bukan tuk di adu shg tau betul karakter si merpati.tiba-tiba Paklek ku nyletuk "Merpati Itu Binatang Paling SETIA dg Pasangannya !",aq pun refleks langsung nyletuk juga "loh kok bisa,apa buktinya ?"...
Uji coba dilakukan sengaja aq letakkan sepasang merpati yg bukan pasangannya di dalam satu kamar di bekupon,terlihat sekali ketidaknyamanan didlm kamar itu dan di luar kamar sang pasangan merpati itu terlihat jg kegelisahan mngkin dlm bhs manusia diartikan cemburu...
Ternyata Merpati itu tdk bisa "selingkuh",apalagi Pologami !.dia tidak akan mau klu bukan dengan pasangannya jadi merpati hanya kenal paham Monogami...
Otakku pun mengelitik tuk mencari bukti2 lain,ingatanku pun melayang flashback beberapa thn lalu, wktu itu aq berpetualang di sebuah desa pedalaman di lereng G.Ijen ada sebuah permainan dmn merpati perempuan dipegang/dikibas2kn sayapnya kemudian dengan jarak kira2 200 M merpati jantan dilepas,dengan tangkas dan cepat merpati jantan saling berlomba2 tuk sampai kpd pasanganya...
Tak terasa senja semakin manja,adzan magribpun sebentar lagi berkumandang waktu aq tuk kembali pulang kerumah...
Dalam perjalanan pulang aq melihat banyak merpati yang di lepas jauh dari rumahnya(puluhan Kilo Meter),rumahnya aja tak terlihat apalagi pasangan hidupnya...
Merpati jantan itupun terbang berputar-putar dulu kemudian dia terbang tinggi,ternyata itu semua dilakukan hanya tuk kembali pulang bertemu dgn pasangannya...
Mungkin dari situ burung merpati di pakai sebagi simbol cinta & kesetiaan !!!.
Jadi klu kalian pingin belajar tentang kesetian belajarlah kepada Merpati jangan kepada Ayam !.loh knp ???.ya lain kali aja ya critanya capek...hehehehe
30/10/10 ku gores buat yg sudah punya pasangan tp suka selingkuh !.hahaha.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 November 2010
Jumat, 24 September 2010
Podium Husni
”La ya'riful Waliy illal Waliy”.
Tak tahu Wali kecuali Wali. Tak tahu penyair kalau bukan penyair. Biarlah Husni Djamaluddin Penyair diketahui, dipahami, dimengerti, dihayati, dituliskan, oleh para penyair. Aku bukan.
Pernah kutulis puisi, ribuan, bahkan, tapi tak membuatku jadi penyair. Penyair-ku gagal total. Alhamdulillahi robbil'alamin. Puji Tuhan.
Pernah kutuliskan ribuan esei, kuterbitkan 52 buku, tapi paling jauh sekedar membuatku jadi Penulis. Aku Penulis, yang tak diakui oleh diriku sendiri. Apa itu Penulis? Apa itu Penulis, di hadapan Iqra~ ? Masih adakah makhluk bikinan yang stagnan hidupnya dalam kebanggaan sebagai penulis - di kungkungan al'arsy al'adhim, semesta maha agung yang tak terpahamkan ini? Penulis tak tahu malu. Penulis tak ngerti diri. Yang bangga jadi Penulis, matilah sebelum mati.
Sudah kubunuh penulis-ku. Telah kubatalkan eksistensiku. Telah kutanggalkan diri, satu sekon sesudah kuketahui bahwa diriku sekedar seakan-akan diri. Kalau diperkenankan, di sisa hidupku aku berpura-pura tak kenal diriku, karena Sang Diri menelanjangiku!
Tak kupunyai saham apapun. Segalanya barang pinjaman. Juga yang seolah diriku ini. Sahamku nol persen, tak berhak aku atas segala jabatan, sekedarpun jabatan sebagai manusia. Telah kukembalikan semua barang pinjaman ini kepada Pemiliknya, tanpa perlu Ia mengambilnya kembali melalui Malaikat Maut.
Husni Djamaluddin kekasihku di Tuhan. Melintas-lintas sejenak di dunia hina dina, sekedar untuk mentertawakannya.
***
Tak sanggup kutuliskan apa-apa. Bisa aku ketik lima tulisan dari satu pertandingan sepakbola. Tinggal mengimajinasikan suatu mapping dimensi-dimensi. Memperluas lapangan bola menjadi lapangan nilai. Menentukan angle-angle. Menyerahkannya kepada otak. Kemudian otak memberi perintah kepada jari-jari di atas keyboard komputer. Dan lima tulisan itu bisa terselesaikan kurang dari dua jam.
Karena untuk menulis tak kuperlukan enerji atau kesibukan. Hanya sedikit waktu. Allah pinjamkan hardware si otak ini. Setiap saat Ia memancarkan gelombang elektro-magnetik yang Ia sebut al'aql, akal. Sehingga si otak melakukan pekerjaannya, yakni berpikir. Otak berpikir, atas pertolongan akal. Otak yang berpikir, aku tidak. Aku tidur, dan tatkala bangun otak lapor dan menyodorkan hasil kerjanya. Tanganku tinggal menuliskannya.
Tetapi hal itu justru yang menyebabkan aku terbata tatkala harus menulis sesuatu berkaitan dengan Husni Djamaluddin. Apa gunanya seribu kata diucapkan atau dituliskan di tengah nikmatnya percintaan kami yang sudah meninggalkan kebudayaan di belakang punggung? Kami berdua sering menulis puisi, sekedar untuk konsumsi jiwa kanak-kanak yang bersemayam di badan manusia sepanjang hidupnya. Kami berdua meladeni dunia, konstelasi, era, zaman, peradaban - sebagaimana seorang kakek bermain-main dengan cucunya. Kami berdua menyanyikan ilmu-ilmu, romantisme sosial, keasyikan bermasyarakat - sebagaimana seorang tamu menghirup kopi hangat dari cangkir yang disuguhkan dalam perjamuan yang sesungguhnya terdiri atas 90% kepalsuan.
Kini harus kusapa Husni Djamaluddin dengan bahasa orang lain, bukan bahasa kami berdua. Maka untuk mengambil keputusan tentang satu kata buat Husni Djamaluddin dalam bahasa dunia, aku butuh tak kurang dari setengah tahun.
***
Namun kukerjakan dan kuhayati peran di dunia ini, seolah-olah sungguh-sungguh aku hidup di dunia dan dengan dunia. Kucoba tuliskan itu semua seakan-akan Husni Djamaluddin memerlukannya, sehingga setengah tahun itu berisi hari-hari dengan duri gaib yang menusuk-nusuk kalbuku.
Kurelakan 'pemeranan' ini. Duri itu berasal dari kedalaman kalbu itu sendiri. Duri-duri membuat jiwa perih, karena ia berasal dari lubuk kandungannya sendiri. Siksaan tak terperikan karena wujudnya di gambar perasaanku adalah semacam pengkhianatan cinta. Semakin tak kutemukan kata itu buat beliau, semakin kukutuk diriku sendiri karena tak sanggup menuturkan satu kata setia kepadanya.
Padahal sudah 36 tahun aku menulis puisi, dan kini tiba di puncak kebodohan. Ternyata ribuan puisi yang pernah kutulis itu hanya karangan, dan bukan kesejatian. Pantas aku disebut Pengarang. Dan betapa dungunya aku pernah sesekali berbangga disebut Pengarang. Husni Djamaluddin menyapa hidupku berpuluh tahun dengan hidupnya. Setiap dan seluruh sapaannya mencampakkanku ke ruang kesejatian. Sapaannya kepadaku bukan sapaan seorang penyair, bukan sapaan seorang warga negara dari suatu kekonyolan yang bertele-tele yang bernama Negara, Indonesia, Orba, Reformasi, system, pemilu, hipokrisi visi dan missi, talkshow-talkshow ABG, era komunikasi-informasi badut-badut - deretan kepalsuan-kepalsuan, estafeta kesementaraan-kesementaraan, yang ujungnya kelak berupa over-populasi yang tak tertanggungkan, tercecer-cecer dan terboroskannya bahan energi, peradaban nutrisi rendah bersamaan dengan sirnanya kesanggupan ummat manusia untuk memahami martabat kemanusiaannya sendiri. Kemudian kehancuran.
***
Tidak satu hurufpun di antara Husni Djamaluddin dengan aku boleh direbut oleh kekonyolan-kekonyolan itu. Dulu waktu masih muda bolehlah kami barang beberapa puluh % meladeni tipuan dan kehinaan zaman. Sejak beberapa lama ini kami sudah tua, dan hanya orang tua yang tidak tua yang tidak mengikatkan diri pada ilmu tua. Kunci Ilmu Tua sangat sederhana: memahami dan mengambil hanya yang sejati dan abadi.
Milyaran anak-anak muda menghabiskan isi bumi, menjalankan kebudayaan pesta dan peperangan-peperangan tak berkesudahan, menyia-nyiakan usianya berputar-putar untuk hanya sebagian sangat kecil di antara mereka yang tiba pada Ilmu Tua. Ilmu Tua mentertawakan setiap manusia karena segala yang ia perjuangkan, cita-citakan, harapkan, dambakan, tempuh dan ikhtiarkan sampaipun dengan cara merampok atau mengemis - sesungguhnya adalah sebuah kenyataan sangat bersahaja yang sudah ada padanya, yang semua orang sudah sejak awal memilikinya, terselip di sudut jiwanya - namun hanya bisa ditemukan oleh mata sejati dan mata abadi.
Ya dun-ya ghurri ghoiri, laqad thalaqtuka tsalatsatan! - kata si Pintu Ilmu, Ali bin Ali Thalib yang Allah memuliakan wajahnya -- Wahai dunia! Kamu mendekat-dekat padaku, berusaha keras merayu-rayuku, sudahlah, berhentilah, karena diam-diam, jauh di lubuk hatiku, sudah kutalak-tiga kehebatanmu. Wahai dunia! Kugenggam engkau di tanganku, kuselipkan di salah satu jari-jariku. Cukuplah itu bagimu. Berhentikan mengharapkan agar aku memasukkanmu ke dalam hatiku. Yang berhak mendiami hatiku adalah kekasih-kekasihku, dan engkau tak punya apapun untuk pantas menjadi kekasihku. Terimalah nasibmu, wahai dunia! Uruslah jabatan, karier, segala khayalan tentang kemajuan dan pembangunan. Aku mensupportmu dalam posisi itu, tapi hentikanlah mimpi untuk menguasai hidupku, apalagi untuk mendapatkan tempat persemayaman di kandungan jiwa cintaku.
***
Aku sedang sedikit melanggar aturan, menguakkan sedikit jendela agar engkau mengintip sekilas ke dalam ruang kehidupan jiwa Husni Djamaluddin yang sesungguhnya. Yang engkau mengenalinya secara superfisial dan artifisial melalui wujud-wujud remeh bahwa ia adalah penyair, eseis, penulis, budayawan, strateg, atau apapun.
Beberapa tahun silam, Husni Djamaluddin menggendong cucunya pagi-pagi, hendak mengantarkannya pergi sekolah. Begitu kelua pintu rumah putrid dan menantunya, sebuah colt meluncur dan mengantamnya. Ia terjatuh, pingsan, diangkut ke rumah sakit. Wajahnya memar, sehingga kupandang di pembaringan itu wajah Husni Djamaluddin yang benar-benar wajahnya, karena wajah samarannya dimemarkan oleh Allah sehingga hilang bentuknya. Di dalam pingsannya kutemukan jiwa sejatinya, ucapan-ucapan sejatinya, kejernihan kalbunya. Kami omong-omong, berbisik-bisik, tersenyum, tertawa, sesekali memekik, kemudian mentertawakan dunia kembali.
Kalau engkau menyangka bahwa tubuh yang terbaring di Rumah Sakit itu adalah Husni Djamaluddin, maka engkau benar sekitar 1%. Karena kalau engkau menyangka badan terbaring itulah Husni Djamaluddin sepenuhnya, maka engkau takkan mengenalinya. Husni Djamaluddin yang dirumus-rumuskan oleh ilmu sosial dan pendekatan kebudayaan, hanyalah inisial-nya, tanda-tanda sekilas dari eksistensi sejatinya, hanya gelagat-gelagatnya. Dan jika yang engkau kenali pada Husni Djamaluddin terbatas pada gelagatnya, maka engkau akan bisa kehilangan Husni Djamaluddin. Maaf-maaf, aku tak akan pernah kehilangan Husni Djamaluddin!
***
Kalau engkau sekarang memandang jasad wajah Husni Djamaluddin, tak kan engkau temukan satu goresanpun yang bisa menceritakan kepadamu peristiwa pagi ketika colt meluncur itu menabraknya, melemparkannya dan menghancurkan lukisan jasad wajahnya. Sudah kubilang yang ditabrak colt itu bukan Husni Djamaluddin!
Di masa mudanya Husni Djamaluddin nyetir mobil di jalan tol dan tak ada sisa ruang pada pijakan gasnya karena ia gas pol habis. Tetapi ia tak perlu menjadi Pembalap. Kalau pakai idiomatic bahasa Jawa Husni Djamaluddin adalah lelananging jagad - lelakinya dunia. Tetapi lelakinya maupun kelelakiannya tidak pernah sanggup memenjarakannya. Tak sanggup menguasai Husni Djamaluddin yang sesungguhnya.
Ia bukan sekedar bukan sebuah primordialitas yang bernama Seorang Lelaki, Penulis, Tokoh, atau apapun. Bahkan primordialitas sebagai Manusia juga tak bisa menghalangi langkah kesejatiannya. Manusia tidak berhenti hanya menjadi manusia, kecuali ia tak bisa dinamakan manusia. Itu yang disebut makhluk dinamis. Sebagaimana kaum Jin. Berbeda dengan Malaikat dan Iblis yang statis. Manusia dan Jin adalah makhluk kemungkinan. Malaikat dan Iblis adalah makhluk kepastian. Malaikat hanya punya satu kepastian: ya'malu ma yu~marun. Mengerjakan yang diperintahkan. Manusia dan Jin memperoleh peluang demokrasi, mentakdirkan dirinya sendiri sampai prosentase tertentu.
Manusia ditantang Allah mengembarai langit tujuh, yang melingkar, bukan bersap-sap. Sab'a samawat. Dari langit pertama, lambang Allah sendiri. Ke langit kedua: manusia sebagai benda. Langit ketiga: manusia sebagai benda yang berketumbuhan. Langit keempat: benda yang berketumbuhan, berdarah daging dan bernafsu, alias hewan. Langit kelima: benda yang berketumbuhan, berdarah daging, bernafsu, namun juga berakal.
Kemudian langit keenam: ialah langit kreativitas. Langit ijtihad (eksplorasi pemikiran). Langit jihad (perjuangan fisik). Langit mujahadah (pendakian spiritual). Langit fenomenologi.
Politik dan ekonomi sangat sukses membawa manusia turun derajat ke langit hewan. Para seniman termangu-mangu di persimpangan seribu jalan atara langit keenam dengan langit ke tujuh.
Husni Djamaluddin melebur ke langit ketujuh. Bersujud di depan gerbang Langit Pertama.
Rasulullah Muhammad SAW tak pernah tak menitikkan airmata ketika berpapasan dan memandangnya. Beberapa kali beliau menyempatkan diri menemui Husni Djamaluddin pada detik, menit dan jam terbaik dari segala hari. Yakni waktu shalat Subuh. Mungkin itu imbalan kenikmatan dari derita dunia Husni Djamaluddin yang sesekali dilempari hawa buruk santet tenung di detik menit jam paling rawan bagi kesehatan jiwa manusia: yakni menjelang senja hari.
***
25 tahun silam Husni Djamaluddin di tengah malam menyeretku sampai ke depan pintu musholla kuno - di sebuah dusun di Sulawese Selatan -- tempat seorang Waliyullah besar beribadah. Mushalla yang orang tak berani memasukinya, terutama para pendosa, karena dibayangkan Allah akan menyikapi langsung dosa-dosa hamba yang memasukinya. Karena Allah sangat menghormati kesucian kekasihnya, Waliyullah penghuni Mushalla itu. Engkau ditempeleng Allah kalau berani-berani memasukinya.
Husni Djamaluddin tahu aku seorang pendosa yang dosanya serius, maka ia menyorongku memasukinya, tanpa Husni Djamaluddin sendiri memasukinya. Aku sempat berpikir sejenak: Husni Djamaluddin tak perlu makan untuk kenyang, Husni Djamaluddin tak perlu bersuara untuk terdengar menyanyi, Husni Djamaluddin tak perlu selalu menulis puisi dan orang tetap menemukan puisinya meskipun belum tentu dituliskannya.
Di atara lintasan pikiran-pikiran itu aku ada sempat memakinya. Kurang ajar betul dia ini menyorong-nyorong orang bergelimang dosa memasuki kesucian Mushalla sang Wali. Maka aku mengeluh kepada Allah: "Ya Allah betapa maha besarnya Engkau sehingga ada-ku dan tiada-ku sama sekali tak berarti bagiMu. Ya Allah, tak bisa kubayangkan bahwa dengan kemaha-agunganMu Engkau masih perlu marah kepadaKu. Ya Allah, hamba ini tiada. Hamba ini tiada. Apakah sesuatu bisa ditimpakan kepada yang tiada, ya Allah pemenuh jiwaku?"
Kemudian kaki si Tiada ini melangkah masuk ke Musholla. Allahu Akbar. Betapa sejuknya hawa di sini, padahal betapa panas dan gerahnya di luar sana. Di ruangan tertutup ini alam dilanggar, suhu seharusnya lebih tinggi, tapi kesejukan yang menerpa dari ujung rambut sampai pucuk setiap jari-jari. Ratusan nyamuk berdengung-dengung, mengitari begian atas kepalaku, namun tak satupun menyentuh kulitku. Aku bersujud. Lama sekali. Aku shalat. Sepanjang-panjangnya.
Tak kuizinkan ada satu sekon di mana Allah tak kusebut namaNya dan kupuji kemurahanNya. Aku seorang pendosa, bukan?
Sampai kemudian, setelah sekian jam, terdengar adzan Subuh. Aku berpamitan. Kemudian bersama Husni Djamaluddin pergi berjamaah Subuh di Masjid Jami' yang didirikan oleh Waliyullah itu sekian puluh tahun silam.
Seorang murid sang Wali yang sejak tadi menungguku bersama Husni Djamaluddin, bertanya kepadaku: "Ke mana tadi Cak Nun? Ketika Rasulullah mengimami sembahyang para Rasul, para Auliya - ke mana Cak Nun kok tak kelihatan?"
Aku menjawab sekenanya: "Aku nimba di bagian samping Masjid, supaya lancar wudlu beliau-beliau. Kemudian ketika shalat jamaah berlangsung, aku hilir mudik menjaga dan mengawasi segala sesuatu di sekitar Masjid, agar aku tidak cemas dan yakin bahwa segala sesuatunya berjalan lancar. Aku ini berderajat sendal atau keset pembersih sendal. Kebanyakan manusia memilih menjadi peci, dan peci tak pernah mau membersihkan kotoran apapun, malah ia yang setiap kali perlu dibersihkan".
Husni Djamaluddin hanya tersenyum-senyum mendengar itu. Ia tahu itu hanya jawaban seorang pengarang. Tapi Husni Djamaluddin mengalah dan tidak bernafsu mempermalukanku dengan mengungkapkan yang sesungguhnya.
***
Itu semualah majlis yang sesungguhnya dari Husni Djamaluddin. Podium sejatinya. Maqamnya. Titik koordinat di tengah kosmosnya. Apakah engkau menyangka Husni Djamaluddin adalah yang kau sangka Husni Djamaluddin? Apakah tak sesekali engkau mengira Husni Djamaluddin bukanlah yang kau kira Husni Djamaluddin?
Apa artinya sepuluh ribu puisi yang andaikan Husni Djamaluddin pernah tulis dibanding liqa~un adhiem, perjumpaan agung ia dengan Rasulullah SAW? Hidup kita dipenuhi oleh perjumpaan-perjumpaan hina dan culas dalam politik, perjumpaan-perjumpaan rakus serakah dalam berekonomi, serta perjumpaan-perjumpan penuh tahayul dan mitologi dalam berkebudayaan.
Husni Djamaluddin bukan tak pernah berada dalam liqa~un jahil semacam itu, tapi ia selalu mengerti ke mana sesudahnya harus pergi. Karena Husni Djamaluddin mengerti muatan perjumpaan agung adalah mitsaqan ghalidha, perjanjian cinta yang mendasar dan kenikmatan rindu. Bukan cinta dan kerinduan semacam punya kita di mal-mal, café, kantor, atau gedung kesenian.
Datanglah ke Husni Djamaluddin. Minta ia ajak engkau ke majlis-nya. Untuk itu jangan seramkan wajahmu, tapi tersenyumlah. Jangan formalkan perilakumu, tapi mesralah. Allah bukan Presiden, bukan Kepala Kantor, Direktur Perusahaan, Komandan Kodim atau Preman.
Di setiap majlis pengajian, biasanya Rasulullah menghindar untuk duduk di samping atau di sekitar para Sahabat yang perokok. Rasulullah pasti tahu bahwa perokok pasif lebih rawan nasib kesehatannya disbanding perokok aktif. Menantunya, Ali bin Abi Thalib, juga sangat toleran dan bersikap protektif terhadap mertuanya ini, dengan selalu "mencuri start" duduk di samping Rasulullah, agar para perokok tak mendekat.
Sering akan terlalu kentara upaya proteksi Ali atas Rasulullah itu, sehingga Rasulullah - mungkin - menjadi merasa agak risih tak tak enak hati kepada yang lainnya.
Majlis malam itu dibikin meriah oleh seorang Sahabat yang membawa buah korma dalam jumlah yang sangat banyak dibanding biasanya. Pelan-pelan tapi pasti, seluruh jamaah akhirnya melihat bahwa Rasulullah berperilaku agak aneh dengan korma itu.
Setiap kali Rasulullah makan korma, bijihnya selalu diletakkan di depan Ali menantunya. Sampai akhirnya di depan Ali menghampar dan bertumpuklah bijih-bijih korma itu, sementara di depan Rasulullah sendiri tak ada sebijipun bijih korma. Dan tiba-tiba pula Rasulullah melakukan interupsi:
"Saudara-saudaraku semua, mohon waktu sejenak. Kita telah membicarakan berbagai masalah besar yang menyangkut kehidupan seluruh ummat manusia di muka bumi. Hendaklah kita jangan lantas melupakan soal-soal yang tampaknya kecil dan sepele. Cobalah perhatikan, yang paling rakus di antara kita yang hadir malam ini adalah seseorang yang di depannya terdapat tumpukan bijih korma.."
Semua sahabat tertawa dan menikmati humor Rasulullah. Tapi segera terdengar jawaban Ali: "Aku akui hal itu, tapi hendaklah kita mengembangkan pikiran kita ke ilmu yang lebih tinggi. Yang lebih rakus lagi adalah yang di depannya tidak satu bijih kormapun karena sudah dimakan bersama daging korma."
Tertawa membahana lagi. Kali Rasulullah tidak menjawab. Hanya setelah keriuhan mereda, Rasulullah berkata pelan-pelan: "Para sahabatku sekalian, aku yakin kalian cukup cerdas untuk mengamati bahwa yang aku lakukan ini tadi adalah memancing agar tampak pada kalian betapa pandai dan cerdasnya Ali. Oleh karena itu, barang siapa berniat mencari ilmu yang tinggi, hendaklah ia melalui pintunya. Dan Ali-lah Babul' Ilmi, pintu ilmu"
Terkagum-kagum para Sahabat ternyata di balik gurauannya Rasulullah sesungguhnya sedang menggiring jamaah menuju suatu pengetahuan baru yang sangat serius. Tapi belum lama para Sabatan termangu-mangu dengan kesadarab barunya, terdengar kata-kata Ali: "Apabila kalian berjalan melewati pintu ilmu, ke manakah kalian pergi dan apakah yang kalian masuki? Ialah Madinatul 'Ilmi. Kota Ilmu. Dan siapakah di antara hamba-hamba Allah yang layak mendapatkan anugerah dariNya untuk menjadi Kota Ilmu selain Rasulullah Muhammad SAW?"
Dan, Allahu Akbar, Husni Djamaluddin memperoleh derajat untuk didatangi oleh Kota Ilmu..Pantas namanya Sebaik-baik (Husni) Keindahan (Djamal) Kasih Sayang Allah / Agama (ud-Din)*****sumber CNKK
* Tulisan Emha untuk buku 70 tahun penyair Makassar Husni Djamaludin, sahabat Emha sejak puluhan tahun yll, terutama dalam konteks Imam Lapeo dan masyarakat Mandar, di mana Emha sudah diangkat menjadi Sesepuh Masyarakat Mandar sejak tahun 80an.
Tak tahu Wali kecuali Wali. Tak tahu penyair kalau bukan penyair. Biarlah Husni Djamaluddin Penyair diketahui, dipahami, dimengerti, dihayati, dituliskan, oleh para penyair. Aku bukan.
Pernah kutulis puisi, ribuan, bahkan, tapi tak membuatku jadi penyair. Penyair-ku gagal total. Alhamdulillahi robbil'alamin. Puji Tuhan.
Pernah kutuliskan ribuan esei, kuterbitkan 52 buku, tapi paling jauh sekedar membuatku jadi Penulis. Aku Penulis, yang tak diakui oleh diriku sendiri. Apa itu Penulis? Apa itu Penulis, di hadapan Iqra~ ? Masih adakah makhluk bikinan yang stagnan hidupnya dalam kebanggaan sebagai penulis - di kungkungan al'arsy al'adhim, semesta maha agung yang tak terpahamkan ini? Penulis tak tahu malu. Penulis tak ngerti diri. Yang bangga jadi Penulis, matilah sebelum mati.
Sudah kubunuh penulis-ku. Telah kubatalkan eksistensiku. Telah kutanggalkan diri, satu sekon sesudah kuketahui bahwa diriku sekedar seakan-akan diri. Kalau diperkenankan, di sisa hidupku aku berpura-pura tak kenal diriku, karena Sang Diri menelanjangiku!
Tak kupunyai saham apapun. Segalanya barang pinjaman. Juga yang seolah diriku ini. Sahamku nol persen, tak berhak aku atas segala jabatan, sekedarpun jabatan sebagai manusia. Telah kukembalikan semua barang pinjaman ini kepada Pemiliknya, tanpa perlu Ia mengambilnya kembali melalui Malaikat Maut.
Husni Djamaluddin kekasihku di Tuhan. Melintas-lintas sejenak di dunia hina dina, sekedar untuk mentertawakannya.
***
Tak sanggup kutuliskan apa-apa. Bisa aku ketik lima tulisan dari satu pertandingan sepakbola. Tinggal mengimajinasikan suatu mapping dimensi-dimensi. Memperluas lapangan bola menjadi lapangan nilai. Menentukan angle-angle. Menyerahkannya kepada otak. Kemudian otak memberi perintah kepada jari-jari di atas keyboard komputer. Dan lima tulisan itu bisa terselesaikan kurang dari dua jam.
Karena untuk menulis tak kuperlukan enerji atau kesibukan. Hanya sedikit waktu. Allah pinjamkan hardware si otak ini. Setiap saat Ia memancarkan gelombang elektro-magnetik yang Ia sebut al'aql, akal. Sehingga si otak melakukan pekerjaannya, yakni berpikir. Otak berpikir, atas pertolongan akal. Otak yang berpikir, aku tidak. Aku tidur, dan tatkala bangun otak lapor dan menyodorkan hasil kerjanya. Tanganku tinggal menuliskannya.
Tetapi hal itu justru yang menyebabkan aku terbata tatkala harus menulis sesuatu berkaitan dengan Husni Djamaluddin. Apa gunanya seribu kata diucapkan atau dituliskan di tengah nikmatnya percintaan kami yang sudah meninggalkan kebudayaan di belakang punggung? Kami berdua sering menulis puisi, sekedar untuk konsumsi jiwa kanak-kanak yang bersemayam di badan manusia sepanjang hidupnya. Kami berdua meladeni dunia, konstelasi, era, zaman, peradaban - sebagaimana seorang kakek bermain-main dengan cucunya. Kami berdua menyanyikan ilmu-ilmu, romantisme sosial, keasyikan bermasyarakat - sebagaimana seorang tamu menghirup kopi hangat dari cangkir yang disuguhkan dalam perjamuan yang sesungguhnya terdiri atas 90% kepalsuan.
Kini harus kusapa Husni Djamaluddin dengan bahasa orang lain, bukan bahasa kami berdua. Maka untuk mengambil keputusan tentang satu kata buat Husni Djamaluddin dalam bahasa dunia, aku butuh tak kurang dari setengah tahun.
***
Namun kukerjakan dan kuhayati peran di dunia ini, seolah-olah sungguh-sungguh aku hidup di dunia dan dengan dunia. Kucoba tuliskan itu semua seakan-akan Husni Djamaluddin memerlukannya, sehingga setengah tahun itu berisi hari-hari dengan duri gaib yang menusuk-nusuk kalbuku.
Kurelakan 'pemeranan' ini. Duri itu berasal dari kedalaman kalbu itu sendiri. Duri-duri membuat jiwa perih, karena ia berasal dari lubuk kandungannya sendiri. Siksaan tak terperikan karena wujudnya di gambar perasaanku adalah semacam pengkhianatan cinta. Semakin tak kutemukan kata itu buat beliau, semakin kukutuk diriku sendiri karena tak sanggup menuturkan satu kata setia kepadanya.
Padahal sudah 36 tahun aku menulis puisi, dan kini tiba di puncak kebodohan. Ternyata ribuan puisi yang pernah kutulis itu hanya karangan, dan bukan kesejatian. Pantas aku disebut Pengarang. Dan betapa dungunya aku pernah sesekali berbangga disebut Pengarang. Husni Djamaluddin menyapa hidupku berpuluh tahun dengan hidupnya. Setiap dan seluruh sapaannya mencampakkanku ke ruang kesejatian. Sapaannya kepadaku bukan sapaan seorang penyair, bukan sapaan seorang warga negara dari suatu kekonyolan yang bertele-tele yang bernama Negara, Indonesia, Orba, Reformasi, system, pemilu, hipokrisi visi dan missi, talkshow-talkshow ABG, era komunikasi-informasi badut-badut - deretan kepalsuan-kepalsuan, estafeta kesementaraan-kesementaraan, yang ujungnya kelak berupa over-populasi yang tak tertanggungkan, tercecer-cecer dan terboroskannya bahan energi, peradaban nutrisi rendah bersamaan dengan sirnanya kesanggupan ummat manusia untuk memahami martabat kemanusiaannya sendiri. Kemudian kehancuran.
***
Tidak satu hurufpun di antara Husni Djamaluddin dengan aku boleh direbut oleh kekonyolan-kekonyolan itu. Dulu waktu masih muda bolehlah kami barang beberapa puluh % meladeni tipuan dan kehinaan zaman. Sejak beberapa lama ini kami sudah tua, dan hanya orang tua yang tidak tua yang tidak mengikatkan diri pada ilmu tua. Kunci Ilmu Tua sangat sederhana: memahami dan mengambil hanya yang sejati dan abadi.
Milyaran anak-anak muda menghabiskan isi bumi, menjalankan kebudayaan pesta dan peperangan-peperangan tak berkesudahan, menyia-nyiakan usianya berputar-putar untuk hanya sebagian sangat kecil di antara mereka yang tiba pada Ilmu Tua. Ilmu Tua mentertawakan setiap manusia karena segala yang ia perjuangkan, cita-citakan, harapkan, dambakan, tempuh dan ikhtiarkan sampaipun dengan cara merampok atau mengemis - sesungguhnya adalah sebuah kenyataan sangat bersahaja yang sudah ada padanya, yang semua orang sudah sejak awal memilikinya, terselip di sudut jiwanya - namun hanya bisa ditemukan oleh mata sejati dan mata abadi.
Ya dun-ya ghurri ghoiri, laqad thalaqtuka tsalatsatan! - kata si Pintu Ilmu, Ali bin Ali Thalib yang Allah memuliakan wajahnya -- Wahai dunia! Kamu mendekat-dekat padaku, berusaha keras merayu-rayuku, sudahlah, berhentilah, karena diam-diam, jauh di lubuk hatiku, sudah kutalak-tiga kehebatanmu. Wahai dunia! Kugenggam engkau di tanganku, kuselipkan di salah satu jari-jariku. Cukuplah itu bagimu. Berhentikan mengharapkan agar aku memasukkanmu ke dalam hatiku. Yang berhak mendiami hatiku adalah kekasih-kekasihku, dan engkau tak punya apapun untuk pantas menjadi kekasihku. Terimalah nasibmu, wahai dunia! Uruslah jabatan, karier, segala khayalan tentang kemajuan dan pembangunan. Aku mensupportmu dalam posisi itu, tapi hentikanlah mimpi untuk menguasai hidupku, apalagi untuk mendapatkan tempat persemayaman di kandungan jiwa cintaku.
***
Aku sedang sedikit melanggar aturan, menguakkan sedikit jendela agar engkau mengintip sekilas ke dalam ruang kehidupan jiwa Husni Djamaluddin yang sesungguhnya. Yang engkau mengenalinya secara superfisial dan artifisial melalui wujud-wujud remeh bahwa ia adalah penyair, eseis, penulis, budayawan, strateg, atau apapun.
Beberapa tahun silam, Husni Djamaluddin menggendong cucunya pagi-pagi, hendak mengantarkannya pergi sekolah. Begitu kelua pintu rumah putrid dan menantunya, sebuah colt meluncur dan mengantamnya. Ia terjatuh, pingsan, diangkut ke rumah sakit. Wajahnya memar, sehingga kupandang di pembaringan itu wajah Husni Djamaluddin yang benar-benar wajahnya, karena wajah samarannya dimemarkan oleh Allah sehingga hilang bentuknya. Di dalam pingsannya kutemukan jiwa sejatinya, ucapan-ucapan sejatinya, kejernihan kalbunya. Kami omong-omong, berbisik-bisik, tersenyum, tertawa, sesekali memekik, kemudian mentertawakan dunia kembali.
Kalau engkau menyangka bahwa tubuh yang terbaring di Rumah Sakit itu adalah Husni Djamaluddin, maka engkau benar sekitar 1%. Karena kalau engkau menyangka badan terbaring itulah Husni Djamaluddin sepenuhnya, maka engkau takkan mengenalinya. Husni Djamaluddin yang dirumus-rumuskan oleh ilmu sosial dan pendekatan kebudayaan, hanyalah inisial-nya, tanda-tanda sekilas dari eksistensi sejatinya, hanya gelagat-gelagatnya. Dan jika yang engkau kenali pada Husni Djamaluddin terbatas pada gelagatnya, maka engkau akan bisa kehilangan Husni Djamaluddin. Maaf-maaf, aku tak akan pernah kehilangan Husni Djamaluddin!
***
Kalau engkau sekarang memandang jasad wajah Husni Djamaluddin, tak kan engkau temukan satu goresanpun yang bisa menceritakan kepadamu peristiwa pagi ketika colt meluncur itu menabraknya, melemparkannya dan menghancurkan lukisan jasad wajahnya. Sudah kubilang yang ditabrak colt itu bukan Husni Djamaluddin!
Di masa mudanya Husni Djamaluddin nyetir mobil di jalan tol dan tak ada sisa ruang pada pijakan gasnya karena ia gas pol habis. Tetapi ia tak perlu menjadi Pembalap. Kalau pakai idiomatic bahasa Jawa Husni Djamaluddin adalah lelananging jagad - lelakinya dunia. Tetapi lelakinya maupun kelelakiannya tidak pernah sanggup memenjarakannya. Tak sanggup menguasai Husni Djamaluddin yang sesungguhnya.
Ia bukan sekedar bukan sebuah primordialitas yang bernama Seorang Lelaki, Penulis, Tokoh, atau apapun. Bahkan primordialitas sebagai Manusia juga tak bisa menghalangi langkah kesejatiannya. Manusia tidak berhenti hanya menjadi manusia, kecuali ia tak bisa dinamakan manusia. Itu yang disebut makhluk dinamis. Sebagaimana kaum Jin. Berbeda dengan Malaikat dan Iblis yang statis. Manusia dan Jin adalah makhluk kemungkinan. Malaikat dan Iblis adalah makhluk kepastian. Malaikat hanya punya satu kepastian: ya'malu ma yu~marun. Mengerjakan yang diperintahkan. Manusia dan Jin memperoleh peluang demokrasi, mentakdirkan dirinya sendiri sampai prosentase tertentu.
Manusia ditantang Allah mengembarai langit tujuh, yang melingkar, bukan bersap-sap. Sab'a samawat. Dari langit pertama, lambang Allah sendiri. Ke langit kedua: manusia sebagai benda. Langit ketiga: manusia sebagai benda yang berketumbuhan. Langit keempat: benda yang berketumbuhan, berdarah daging dan bernafsu, alias hewan. Langit kelima: benda yang berketumbuhan, berdarah daging, bernafsu, namun juga berakal.
Kemudian langit keenam: ialah langit kreativitas. Langit ijtihad (eksplorasi pemikiran). Langit jihad (perjuangan fisik). Langit mujahadah (pendakian spiritual). Langit fenomenologi.
Politik dan ekonomi sangat sukses membawa manusia turun derajat ke langit hewan. Para seniman termangu-mangu di persimpangan seribu jalan atara langit keenam dengan langit ke tujuh.
Husni Djamaluddin melebur ke langit ketujuh. Bersujud di depan gerbang Langit Pertama.
Rasulullah Muhammad SAW tak pernah tak menitikkan airmata ketika berpapasan dan memandangnya. Beberapa kali beliau menyempatkan diri menemui Husni Djamaluddin pada detik, menit dan jam terbaik dari segala hari. Yakni waktu shalat Subuh. Mungkin itu imbalan kenikmatan dari derita dunia Husni Djamaluddin yang sesekali dilempari hawa buruk santet tenung di detik menit jam paling rawan bagi kesehatan jiwa manusia: yakni menjelang senja hari.
***
25 tahun silam Husni Djamaluddin di tengah malam menyeretku sampai ke depan pintu musholla kuno - di sebuah dusun di Sulawese Selatan -- tempat seorang Waliyullah besar beribadah. Mushalla yang orang tak berani memasukinya, terutama para pendosa, karena dibayangkan Allah akan menyikapi langsung dosa-dosa hamba yang memasukinya. Karena Allah sangat menghormati kesucian kekasihnya, Waliyullah penghuni Mushalla itu. Engkau ditempeleng Allah kalau berani-berani memasukinya.
Husni Djamaluddin tahu aku seorang pendosa yang dosanya serius, maka ia menyorongku memasukinya, tanpa Husni Djamaluddin sendiri memasukinya. Aku sempat berpikir sejenak: Husni Djamaluddin tak perlu makan untuk kenyang, Husni Djamaluddin tak perlu bersuara untuk terdengar menyanyi, Husni Djamaluddin tak perlu selalu menulis puisi dan orang tetap menemukan puisinya meskipun belum tentu dituliskannya.
Di atara lintasan pikiran-pikiran itu aku ada sempat memakinya. Kurang ajar betul dia ini menyorong-nyorong orang bergelimang dosa memasuki kesucian Mushalla sang Wali. Maka aku mengeluh kepada Allah: "Ya Allah betapa maha besarnya Engkau sehingga ada-ku dan tiada-ku sama sekali tak berarti bagiMu. Ya Allah, tak bisa kubayangkan bahwa dengan kemaha-agunganMu Engkau masih perlu marah kepadaKu. Ya Allah, hamba ini tiada. Hamba ini tiada. Apakah sesuatu bisa ditimpakan kepada yang tiada, ya Allah pemenuh jiwaku?"
Kemudian kaki si Tiada ini melangkah masuk ke Musholla. Allahu Akbar. Betapa sejuknya hawa di sini, padahal betapa panas dan gerahnya di luar sana. Di ruangan tertutup ini alam dilanggar, suhu seharusnya lebih tinggi, tapi kesejukan yang menerpa dari ujung rambut sampai pucuk setiap jari-jari. Ratusan nyamuk berdengung-dengung, mengitari begian atas kepalaku, namun tak satupun menyentuh kulitku. Aku bersujud. Lama sekali. Aku shalat. Sepanjang-panjangnya.
Tak kuizinkan ada satu sekon di mana Allah tak kusebut namaNya dan kupuji kemurahanNya. Aku seorang pendosa, bukan?
Sampai kemudian, setelah sekian jam, terdengar adzan Subuh. Aku berpamitan. Kemudian bersama Husni Djamaluddin pergi berjamaah Subuh di Masjid Jami' yang didirikan oleh Waliyullah itu sekian puluh tahun silam.
Seorang murid sang Wali yang sejak tadi menungguku bersama Husni Djamaluddin, bertanya kepadaku: "Ke mana tadi Cak Nun? Ketika Rasulullah mengimami sembahyang para Rasul, para Auliya - ke mana Cak Nun kok tak kelihatan?"
Aku menjawab sekenanya: "Aku nimba di bagian samping Masjid, supaya lancar wudlu beliau-beliau. Kemudian ketika shalat jamaah berlangsung, aku hilir mudik menjaga dan mengawasi segala sesuatu di sekitar Masjid, agar aku tidak cemas dan yakin bahwa segala sesuatunya berjalan lancar. Aku ini berderajat sendal atau keset pembersih sendal. Kebanyakan manusia memilih menjadi peci, dan peci tak pernah mau membersihkan kotoran apapun, malah ia yang setiap kali perlu dibersihkan".
Husni Djamaluddin hanya tersenyum-senyum mendengar itu. Ia tahu itu hanya jawaban seorang pengarang. Tapi Husni Djamaluddin mengalah dan tidak bernafsu mempermalukanku dengan mengungkapkan yang sesungguhnya.
***
Itu semualah majlis yang sesungguhnya dari Husni Djamaluddin. Podium sejatinya. Maqamnya. Titik koordinat di tengah kosmosnya. Apakah engkau menyangka Husni Djamaluddin adalah yang kau sangka Husni Djamaluddin? Apakah tak sesekali engkau mengira Husni Djamaluddin bukanlah yang kau kira Husni Djamaluddin?
Apa artinya sepuluh ribu puisi yang andaikan Husni Djamaluddin pernah tulis dibanding liqa~un adhiem, perjumpaan agung ia dengan Rasulullah SAW? Hidup kita dipenuhi oleh perjumpaan-perjumpaan hina dan culas dalam politik, perjumpaan-perjumpaan rakus serakah dalam berekonomi, serta perjumpaan-perjumpan penuh tahayul dan mitologi dalam berkebudayaan.
Husni Djamaluddin bukan tak pernah berada dalam liqa~un jahil semacam itu, tapi ia selalu mengerti ke mana sesudahnya harus pergi. Karena Husni Djamaluddin mengerti muatan perjumpaan agung adalah mitsaqan ghalidha, perjanjian cinta yang mendasar dan kenikmatan rindu. Bukan cinta dan kerinduan semacam punya kita di mal-mal, café, kantor, atau gedung kesenian.
Datanglah ke Husni Djamaluddin. Minta ia ajak engkau ke majlis-nya. Untuk itu jangan seramkan wajahmu, tapi tersenyumlah. Jangan formalkan perilakumu, tapi mesralah. Allah bukan Presiden, bukan Kepala Kantor, Direktur Perusahaan, Komandan Kodim atau Preman.
Di setiap majlis pengajian, biasanya Rasulullah menghindar untuk duduk di samping atau di sekitar para Sahabat yang perokok. Rasulullah pasti tahu bahwa perokok pasif lebih rawan nasib kesehatannya disbanding perokok aktif. Menantunya, Ali bin Abi Thalib, juga sangat toleran dan bersikap protektif terhadap mertuanya ini, dengan selalu "mencuri start" duduk di samping Rasulullah, agar para perokok tak mendekat.
Sering akan terlalu kentara upaya proteksi Ali atas Rasulullah itu, sehingga Rasulullah - mungkin - menjadi merasa agak risih tak tak enak hati kepada yang lainnya.
Majlis malam itu dibikin meriah oleh seorang Sahabat yang membawa buah korma dalam jumlah yang sangat banyak dibanding biasanya. Pelan-pelan tapi pasti, seluruh jamaah akhirnya melihat bahwa Rasulullah berperilaku agak aneh dengan korma itu.
Setiap kali Rasulullah makan korma, bijihnya selalu diletakkan di depan Ali menantunya. Sampai akhirnya di depan Ali menghampar dan bertumpuklah bijih-bijih korma itu, sementara di depan Rasulullah sendiri tak ada sebijipun bijih korma. Dan tiba-tiba pula Rasulullah melakukan interupsi:
"Saudara-saudaraku semua, mohon waktu sejenak. Kita telah membicarakan berbagai masalah besar yang menyangkut kehidupan seluruh ummat manusia di muka bumi. Hendaklah kita jangan lantas melupakan soal-soal yang tampaknya kecil dan sepele. Cobalah perhatikan, yang paling rakus di antara kita yang hadir malam ini adalah seseorang yang di depannya terdapat tumpukan bijih korma.."
Semua sahabat tertawa dan menikmati humor Rasulullah. Tapi segera terdengar jawaban Ali: "Aku akui hal itu, tapi hendaklah kita mengembangkan pikiran kita ke ilmu yang lebih tinggi. Yang lebih rakus lagi adalah yang di depannya tidak satu bijih kormapun karena sudah dimakan bersama daging korma."
Tertawa membahana lagi. Kali Rasulullah tidak menjawab. Hanya setelah keriuhan mereda, Rasulullah berkata pelan-pelan: "Para sahabatku sekalian, aku yakin kalian cukup cerdas untuk mengamati bahwa yang aku lakukan ini tadi adalah memancing agar tampak pada kalian betapa pandai dan cerdasnya Ali. Oleh karena itu, barang siapa berniat mencari ilmu yang tinggi, hendaklah ia melalui pintunya. Dan Ali-lah Babul' Ilmi, pintu ilmu"
Terkagum-kagum para Sahabat ternyata di balik gurauannya Rasulullah sesungguhnya sedang menggiring jamaah menuju suatu pengetahuan baru yang sangat serius. Tapi belum lama para Sabatan termangu-mangu dengan kesadarab barunya, terdengar kata-kata Ali: "Apabila kalian berjalan melewati pintu ilmu, ke manakah kalian pergi dan apakah yang kalian masuki? Ialah Madinatul 'Ilmi. Kota Ilmu. Dan siapakah di antara hamba-hamba Allah yang layak mendapatkan anugerah dariNya untuk menjadi Kota Ilmu selain Rasulullah Muhammad SAW?"
Dan, Allahu Akbar, Husni Djamaluddin memperoleh derajat untuk didatangi oleh Kota Ilmu..Pantas namanya Sebaik-baik (Husni) Keindahan (Djamal) Kasih Sayang Allah / Agama (ud-Din)*****sumber CNKK
* Tulisan Emha untuk buku 70 tahun penyair Makassar Husni Djamaludin, sahabat Emha sejak puluhan tahun yll, terutama dalam konteks Imam Lapeo dan masyarakat Mandar, di mana Emha sudah diangkat menjadi Sesepuh Masyarakat Mandar sejak tahun 80an.
Label:
Cerpen
Rabu, 22 September 2010
Sejenak Mengenang Musisi Asal Surabaya.....Alm GOMBLOH...(Sebuah Renungan.."Semakin Gila")
Membicarakan Gombloh aku jadi teringat waktu aku masih duduk di TK,waktu itu ibu membawa temanya untuk menyunat "burungku", memang waktu itu aku yang minta disunat karena kata guru ngajiku aku tidak boleh naik dari Turutan (sekarang pakai Iqro' tuk belajar membaca al qur'an dari dasar) ke Al Qur'an kalu belum disunat kebetuan waktu itu aku hampir khatam Turutan.
Sebelum disunat Bapakku membelikan aku kaset GOMBLOH "The Very Best Of Gombloh" (album gombloh yg paling Hits di radio2 seindonesia).waktu disunat biar tenang aku diputerkan kaset itu dan dikeraskan volumenya disaat aku teriak kesakitan disuntik (untuk anastesi) agar tetangga tidak ada yang dengar,maklum waktu aku disunat kedua orang tuaku hidup pas-pasan jadi tidak ada acara besar-besaran cukup dibikinkan urap-urap di bagi-bagi ketetangga dan hanya bilang sekedar syukuran...jadi gak dapat banyak uang tuk sekedar beli mainan..hahahaaa
Gombloh dilahirkan sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Slamet adalah seorang pedagang kecil yang hidup dari menjual ayam potong di pasar tradisional di kota mereka. Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Gombloh menyelesaikan pendidikan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, (ITS) Surabaya, namun tidak diselesaikannya dan memilih menuruti nalurinya untuk bermusik. Gombloh pada kenyataannya tidak pernah berniat kuliah di ITS, ia melakukannya karena kasihan dengan orang tuanya. Ia sering membolos. Kelakuannya ini akhirnya diketahui ayahnya setelah Slamet mendapat surat dari ITS yang memberikan peringatan.Gombloh bereaksi dengan menghilang ke Bali dan bertualang sebagai seniman. Jiwanya yang bebas tidak dapat dikekang oleh disiplin yang ketat dan kuliah yang teratur.(Wikipedia)
Ayo sedikit qt merenung dari lagu yang diciptakanya dulu yang sekiranya tepat untuk jaman sekarang yang berjudul SEMAKIN GILA
ya Jaman yang bener-bener Semakin GIla ini liriknya...
Ku tak tau memngapa adakah berlaku karma
Atau puber kedua menjadi model di kota
Tante..tante..woww..eeehh siang malam
Kelayapan..Ratu malam...
Mengandeng bocah ingusan menganggap kayak perawan
Tak mengingat anak di rumah berjumlah belasan GILA...
Om-om tak mau mengerti mengikuti mode di luar negri
uang bukan masalah walau sumber netah dari mana
Pacaran..eehh dengan gadis muda
Mandi uap katanya penganti senam pagi
Dia tak mau memikir tak kan pula berkaca
Tak melihat kulitnya yang memrbentuk peta kota
GILA...Keriput
Maafkan kami tante...maafkan deh om
Bukan maksud kami juga bukan maksud dia
Mungkin jaman ini yang disebut jaman edan
Dimana manusia diperhamba oleh setan GILA...
Anak lupa sekolah tenggelam di narkotika
Harta melimpah ruah membuat mereka slah tingkah
BROKEN HOME...Kenakalan remaja
Kriminalitas...makin berkuasa
Om dan tante tak perduli apapun akibatnya
Yang penting Om dan Tante
terobat seleranya..ya GILA
Ingatlah Om dan Tante
Generasi mendatang bukanlah generasi
sebagai barang hiassan
GILA..ya betul GILA...
Ini salah siapa kami tak bisa jawab
Kami hanya berkata itu yang disebut
GILA...GILA...HAHAHAHAHA
ya sebuah lagu balada yang menceritakan realita kehidupan jaman sekarang dimana Om,Tante maupun anak-anak sekrang yang lebih banyak di perhamba oleh setan,mengejar kehidupan dunia yang sudah dianggap sebagai tujuan bukan lagi sebagai alat tuk mencari Rhidho Allah SWT...semoga kita bukanlah termasuk karakter2 yang tertulis di lirik tersebut kalaupun ada yang merasa, Allah masih membuka pintu taubatnya tuk memperbaiki lagi diri kita menjadi hamba Allah yang selalu di RhidoiNya...
Gombloh meninggal dunia di surabaya pada 09 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit pada paru-parunya.Kebiasaan merokoknya sulit dihilangkan dan ia dikabarkan sering begadang. Menurut salah seorang temannya, beberapa waktu sebelum meninggal, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin.
Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu.Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu. Pada tanggal 30 Maret 2005 dalam acara puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, Gombloh mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari PAPPRI bersama sembilan tokoh musik lainnya.yaitu
1. Gombloh
2. Nike Ardila
3. Titiek Puspa
4. Anggun
5. Iwan Fals
6. Ebiet G Ade
7. Titiek Sandhora
8. Deddy Dores
9. Borey Marantika
Lagu-lagu karya Gombloh sempat diangkat dalam penelitian Martin Hatch seorang peneliti dari Universitas Cornell dan ditulis sebagai karya ilmiah yang berjudul "Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers", yang dibawakan dalam seminar musik The Soceity Of Ethnomusicology di Toronto, Kanada pada tahun 2000.(wikipedia)
Semoga lagu-lagumu tetap bisa dikenang lalu bisa diambil pesannya dan bisa menjadi amal jariahmu...amin.
Aku...Pengemarmu..21/09/10
Sebelum disunat Bapakku membelikan aku kaset GOMBLOH "The Very Best Of Gombloh" (album gombloh yg paling Hits di radio2 seindonesia).waktu disunat biar tenang aku diputerkan kaset itu dan dikeraskan volumenya disaat aku teriak kesakitan disuntik (untuk anastesi) agar tetangga tidak ada yang dengar,maklum waktu aku disunat kedua orang tuaku hidup pas-pasan jadi tidak ada acara besar-besaran cukup dibikinkan urap-urap di bagi-bagi ketetangga dan hanya bilang sekedar syukuran...jadi gak dapat banyak uang tuk sekedar beli mainan..hahahaaa
Gombloh dilahirkan sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Slamet adalah seorang pedagang kecil yang hidup dari menjual ayam potong di pasar tradisional di kota mereka. Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Gombloh menyelesaikan pendidikan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, (ITS) Surabaya, namun tidak diselesaikannya dan memilih menuruti nalurinya untuk bermusik. Gombloh pada kenyataannya tidak pernah berniat kuliah di ITS, ia melakukannya karena kasihan dengan orang tuanya. Ia sering membolos. Kelakuannya ini akhirnya diketahui ayahnya setelah Slamet mendapat surat dari ITS yang memberikan peringatan.Gombloh bereaksi dengan menghilang ke Bali dan bertualang sebagai seniman. Jiwanya yang bebas tidak dapat dikekang oleh disiplin yang ketat dan kuliah yang teratur.(Wikipedia)
Ayo sedikit qt merenung dari lagu yang diciptakanya dulu yang sekiranya tepat untuk jaman sekarang yang berjudul SEMAKIN GILA
ya Jaman yang bener-bener Semakin GIla ini liriknya...
Ku tak tau memngapa adakah berlaku karma
Atau puber kedua menjadi model di kota
Tante..tante..woww..eeehh siang malam
Kelayapan..Ratu malam...
Mengandeng bocah ingusan menganggap kayak perawan
Tak mengingat anak di rumah berjumlah belasan GILA...
Om-om tak mau mengerti mengikuti mode di luar negri
uang bukan masalah walau sumber netah dari mana
Pacaran..eehh dengan gadis muda
Mandi uap katanya penganti senam pagi
Dia tak mau memikir tak kan pula berkaca
Tak melihat kulitnya yang memrbentuk peta kota
GILA...Keriput
Maafkan kami tante...maafkan deh om
Bukan maksud kami juga bukan maksud dia
Mungkin jaman ini yang disebut jaman edan
Dimana manusia diperhamba oleh setan GILA...
Anak lupa sekolah tenggelam di narkotika
Harta melimpah ruah membuat mereka slah tingkah
BROKEN HOME...Kenakalan remaja
Kriminalitas...makin berkuasa
Om dan tante tak perduli apapun akibatnya
Yang penting Om dan Tante
terobat seleranya..ya GILA
Ingatlah Om dan Tante
Generasi mendatang bukanlah generasi
sebagai barang hiassan
GILA..ya betul GILA...
Ini salah siapa kami tak bisa jawab
Kami hanya berkata itu yang disebut
GILA...GILA...HAHAHAHAHA
ya sebuah lagu balada yang menceritakan realita kehidupan jaman sekarang dimana Om,Tante maupun anak-anak sekrang yang lebih banyak di perhamba oleh setan,mengejar kehidupan dunia yang sudah dianggap sebagai tujuan bukan lagi sebagai alat tuk mencari Rhidho Allah SWT...semoga kita bukanlah termasuk karakter2 yang tertulis di lirik tersebut kalaupun ada yang merasa, Allah masih membuka pintu taubatnya tuk memperbaiki lagi diri kita menjadi hamba Allah yang selalu di RhidoiNya...
Gombloh meninggal dunia di surabaya pada 09 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit pada paru-parunya.Kebiasaan merokoknya sulit dihilangkan dan ia dikabarkan sering begadang. Menurut salah seorang temannya, beberapa waktu sebelum meninggal, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin.
Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu.Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu. Pada tanggal 30 Maret 2005 dalam acara puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, Gombloh mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari PAPPRI bersama sembilan tokoh musik lainnya.yaitu
1. Gombloh
2. Nike Ardila
3. Titiek Puspa
4. Anggun
5. Iwan Fals
6. Ebiet G Ade
7. Titiek Sandhora
8. Deddy Dores
9. Borey Marantika
Lagu-lagu karya Gombloh sempat diangkat dalam penelitian Martin Hatch seorang peneliti dari Universitas Cornell dan ditulis sebagai karya ilmiah yang berjudul "Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers", yang dibawakan dalam seminar musik The Soceity Of Ethnomusicology di Toronto, Kanada pada tahun 2000.(wikipedia)
Semoga lagu-lagumu tetap bisa dikenang lalu bisa diambil pesannya dan bisa menjadi amal jariahmu...amin.
Aku...Pengemarmu..21/09/10
Label:
Cerpen
Rabu, 08 September 2010
Surat Dari Benua Lain
Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan pesan via facebook dari seorang sahabat lama yang sekarang berada di benua lain dunia ini dia punya rumah di 3 bunua..he3,tepatnya sekarang dia Negara Albania,Dia seorang kawan di masa SMU ku dulu.Aku mengenalnya sejak kelas 1 SMU,kami sekelas nama kelas kami I 4.
Dia seorang perempuan yang cantik sangat menonjol di semua mata pelajaran terutama Agama dan Bahasa Inggris..(dia pernah menimbah ilmu di pesantren).ya kalau Agama aku masih bisa lah ngimbangi dikit - dikit tapi kalau yang namanya Bahasa Inggris maaf seribu maaf bisa dikatakan mata pelajaran ini aku NOL besar….hahaha.Karena aku mempunyai pemikiran bahwa bahasa ini adalah bahasa munafiq kenapa aku sebut sperti itu karena arti dari tiap kata itu bisa berbeda-beda tergantung kalimatnya belum lagi lidahku yang ASLI SUROBOYO jadi agak-agak susah pengucapanya…wkwkwk
Bagiku sahabatku ini seorang pejuangan yang bukan hanya ingin mewujudkan mimpinya tapi juga mampu mewujudkan doa-doa yang ia munajatkan kepada Sang Penguasa Takdir.Ya sesuai dengan namanya “Khadijah” seperti nama Istri manusia paling mulia di muka bumi ini Muhammad SAW,yang dengan kesabaran dan ketegarannya mendampingi Sang Nabi berdakwah..
Selepas SMU aku kehilangan kabar darinya tapi beberapa tahun kemudian dia menghubungi aku lewat telepon rumah dia bercerita kalu sedang transit di Surabaya…aku bingung waktu itu ternyata dia bekerja sebagai Pramugari di perusahaan penerbangan ternama di Arab Saudi (SAUDIA AIRLINES),aku pun tidak terkejut karena dari background nya yang menguasai bahasa arab & inggris bisa jadi sekarang dia menguasai berbagai macam bahasa negara-negara lain…sekarang dia sudah berkeluarga bersuamikan orang eropa dan memiliki putri satu yang cantik.
Aku pun membuka pesan yang dia kirim dari Riyadh untuk beberapa temanya yang berada di Indonesia pesan itu,di saat aku membacanya aku di buat terkejut dengan pesan yang ia tulis sebuah pesan yang terkadang kita atau bahkan aku bila melakukanya(melakukan kesahalan itu) tidak akan mungkin mau mengakuinya padahal sadar atau tidak kita sudah melakukanya kepada teman atau saudara-saudara kita…
Pesan itu tertulis seprti ini…(coba renungkanlah...)
03 September jam 1:06
TEMAN yang pernah ku SAYAT hatimu dengan tajamnya kata2ku.
TEMAN yang pernah ku TELANJANGI aib mu hingga m'buatmu malu.
TEMAN yang pernah ku HARDIK dengan bentakanku.
TEMAN yang pernah ku KHIANATI segala janjiku padamu.
TEMAN yang pernah ku NODAI kepercayaanmu padaku.
TEMAN yang pernah ku GUNJING di belakangmu.
TEMAN yang pernah ku DEBAT segala perkataanmu.
TEMAN yang pernah ku MUSUHI dirimu.
TEMAN yang pernah ku DENDAM padamu.
TEMAN yang pernah ku IRI,HASUT padamu.
TEMAN yang pernah ku BOHONGI dg janji dan perkataanku.
TEMAN yang aku selalu berMUKA DUA padamu...........
lihatlah betapa banyaknya dosa2ku padamu,sampai aku pun tak sanggup menuliskannya..................................
saat ini menjelang malam lailatul qadar dan menjelang akhir2 ramadhan...
aku datang datang melalui sepucuk surat,karena ribuan mil yang memisahkan jarak kita...
aku datang bukan untuk mengucap "SELAMAT LEBARAN"....
aku datang "MENGETUK" nuranimu,dari kalbu yg paling dalam....
"AKU MOHON MAAFMU LAHIR DAN BATHIN"
semoga kamu ridha dan memafkan segala kenistaanku.
sehingga kelak...terhapus hisab antara AKU dan KAMU sebagai bani adam.
mudah2an AKU dan KAMU terlahir fitrah bagai kertas putih.
mudah2an AKU dan KAMU telah terbebas dari belenggu dendam.
mudah2an AKU dan KAMU telah saling ridha memaafkan.
mudah2an AKU dan KAMU mendapatkan keridhaan ALLAH.
mudah2an AKU dan KAMU bertemu sbg sahabat di surga firdaus.
mudah2an AKU dan KAMU memasuki pintu RAYYAN...pintu bagi ahli puasa.......
sahabat,sekian suratku...sampaikan salam hangatku untuk keluargamu tercinta......"MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN.....KU MOHON MAAFMU LAHIR DAN BATHIN"..............(icha,edvin and alena)
riyadh,2nd sept 2010
Sebuah pesan yang mengharu birukan hati...aku pun hanya bisa membalasnya dengan...
ngeh sami2 prend...
Suroboyo,3nd sept 2010
ya tidak banyak kalimat yang bisa kutulis tapi sebuah doa tulus terucap semoga kau masih bisa mengejar semua mimpi-mimpi dan doa-doa yang belum tercapai dan selalu dalam lindungan CintaNya.Amin
Sebuah pesan yang penuh makna….
Sahabat semoga jarak ribuan mil tidak memutus silaturahmi diantara kita...
aku...29 Ramdhan 1431 H
Dia seorang perempuan yang cantik sangat menonjol di semua mata pelajaran terutama Agama dan Bahasa Inggris..(dia pernah menimbah ilmu di pesantren).ya kalau Agama aku masih bisa lah ngimbangi dikit - dikit tapi kalau yang namanya Bahasa Inggris maaf seribu maaf bisa dikatakan mata pelajaran ini aku NOL besar….hahaha.Karena aku mempunyai pemikiran bahwa bahasa ini adalah bahasa munafiq kenapa aku sebut sperti itu karena arti dari tiap kata itu bisa berbeda-beda tergantung kalimatnya belum lagi lidahku yang ASLI SUROBOYO jadi agak-agak susah pengucapanya…wkwkwk
Bagiku sahabatku ini seorang pejuangan yang bukan hanya ingin mewujudkan mimpinya tapi juga mampu mewujudkan doa-doa yang ia munajatkan kepada Sang Penguasa Takdir.Ya sesuai dengan namanya “Khadijah” seperti nama Istri manusia paling mulia di muka bumi ini Muhammad SAW,yang dengan kesabaran dan ketegarannya mendampingi Sang Nabi berdakwah..
Selepas SMU aku kehilangan kabar darinya tapi beberapa tahun kemudian dia menghubungi aku lewat telepon rumah dia bercerita kalu sedang transit di Surabaya…aku bingung waktu itu ternyata dia bekerja sebagai Pramugari di perusahaan penerbangan ternama di Arab Saudi (SAUDIA AIRLINES),aku pun tidak terkejut karena dari background nya yang menguasai bahasa arab & inggris bisa jadi sekarang dia menguasai berbagai macam bahasa negara-negara lain…sekarang dia sudah berkeluarga bersuamikan orang eropa dan memiliki putri satu yang cantik.
Aku pun membuka pesan yang dia kirim dari Riyadh untuk beberapa temanya yang berada di Indonesia pesan itu,di saat aku membacanya aku di buat terkejut dengan pesan yang ia tulis sebuah pesan yang terkadang kita atau bahkan aku bila melakukanya(melakukan kesahalan itu) tidak akan mungkin mau mengakuinya padahal sadar atau tidak kita sudah melakukanya kepada teman atau saudara-saudara kita…
Pesan itu tertulis seprti ini…(coba renungkanlah...)
03 September jam 1:06
TEMAN yang pernah ku SAYAT hatimu dengan tajamnya kata2ku.
TEMAN yang pernah ku TELANJANGI aib mu hingga m'buatmu malu.
TEMAN yang pernah ku HARDIK dengan bentakanku.
TEMAN yang pernah ku KHIANATI segala janjiku padamu.
TEMAN yang pernah ku NODAI kepercayaanmu padaku.
TEMAN yang pernah ku GUNJING di belakangmu.
TEMAN yang pernah ku DEBAT segala perkataanmu.
TEMAN yang pernah ku MUSUHI dirimu.
TEMAN yang pernah ku DENDAM padamu.
TEMAN yang pernah ku IRI,HASUT padamu.
TEMAN yang pernah ku BOHONGI dg janji dan perkataanku.
TEMAN yang aku selalu berMUKA DUA padamu...........
lihatlah betapa banyaknya dosa2ku padamu,sampai aku pun tak sanggup menuliskannya..................................
saat ini menjelang malam lailatul qadar dan menjelang akhir2 ramadhan...
aku datang datang melalui sepucuk surat,karena ribuan mil yang memisahkan jarak kita...
aku datang bukan untuk mengucap "SELAMAT LEBARAN"....
aku datang "MENGETUK" nuranimu,dari kalbu yg paling dalam....
"AKU MOHON MAAFMU LAHIR DAN BATHIN"
semoga kamu ridha dan memafkan segala kenistaanku.
sehingga kelak...terhapus hisab antara AKU dan KAMU sebagai bani adam.
mudah2an AKU dan KAMU terlahir fitrah bagai kertas putih.
mudah2an AKU dan KAMU telah terbebas dari belenggu dendam.
mudah2an AKU dan KAMU telah saling ridha memaafkan.
mudah2an AKU dan KAMU mendapatkan keridhaan ALLAH.
mudah2an AKU dan KAMU bertemu sbg sahabat di surga firdaus.
mudah2an AKU dan KAMU memasuki pintu RAYYAN...pintu bagi ahli puasa.......
sahabat,sekian suratku...sampaikan salam hangatku untuk keluargamu tercinta......"MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN.....KU MOHON MAAFMU LAHIR DAN BATHIN"..............(icha,edvin and alena)
riyadh,2nd sept 2010
Sebuah pesan yang mengharu birukan hati...aku pun hanya bisa membalasnya dengan...
ngeh sami2 prend...
Suroboyo,3nd sept 2010
ya tidak banyak kalimat yang bisa kutulis tapi sebuah doa tulus terucap semoga kau masih bisa mengejar semua mimpi-mimpi dan doa-doa yang belum tercapai dan selalu dalam lindungan CintaNya.Amin
Sebuah pesan yang penuh makna….
Sahabat semoga jarak ribuan mil tidak memutus silaturahmi diantara kita...
aku...29 Ramdhan 1431 H
Label:
Cerpen
Jumat, 27 Agustus 2010
GETARKAN PINTU LANGIT !!!
Ada seorang Anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata,kehidupan akademiknya selalu paling rendah diantara teman-temanya.mulai Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas nilai rapotnya selalu paling rendah diantara teman-temanya,Alhamdulillah biarpun nilainya paling rendah dia selalu naik kelas,kedua orang tuanya selalu berharap-harap cemas di setiap kenaikan kelas,setiap catur wulan (sekarang pakai sitem semster) orang tuanya selalu di panggil dan selalu diberi nasehat dari gurunya untuk terus disuruh belajar.
Anak ini bukanlah seorang anak yang pemalas mungkin karena tingkat kecerdasanya yang rendah sehingga dia sangat sulit untuk memahami semua pelajaran,orang tuanya pun tak lelah mengingatkan dia untuk selalu belajar dengan giat bahkan demi sang anak si ibu anak ini rela kesana - kemari mencari soal – soal buat dia bekal belajar tiap akan menghadapi ujian catur wulan maupun ujian kenaikan kelas tapi tetap aja hasilnya nilainya selalu paling rendah dia juga bukan anak yang tergolong nakal di sekolah,bisa jadi anak ini bisa naik kelas karena tingkah lakunya yang baik dan sopan kepada guru maupun teman-temannya.
Raut wajah kesedihan selalu menghiasi wajahnya disetiap pembagian rapot,depresi selalu melandanya,minder pun selalu menghampirinya apalagi anak ini memiliki kakak laki-laki yang tergolong cerdas sehingga dia merasa sebagai anak yang paling bodoh di sekolah maupun dirumah.Hanya pendidikan Agamalah yang dia kuasai maklum aja karena dari kecil (sebelum masuk TK) dia sudah di ngajikan oleh orang tuanya jadi untuk mata pelajaran Agama bisa dikatakan yang paling unggul dari pada mata pelajaran yang lainya.
Tahun demi tahun tingkat pendidikan dia lalui dan nilai terendah diantara teman-temanya sudah melekat padanya.Tak ada seorang pun yang mampu memberikan jalan keluar kepadanya agar menjadi seorang pelajar yang pandai.padahal belajar tiap hari maupun ikut les (bimbel) sudah ia lakukan akan tetapi tetap saja nilai yang dia dapat pas-pasan.Kekeecewaan lah yang selalu ia dapatkan.
Disaat dia memasuki jenjang Sekolah Menengah Umum (SMU) dikelas 3,di suatu malam ramadhan dia melakukan sholat malam,diapun memanjatkan doa-doa sekaligus memuntahkan uneg-uneg nya kepada Sang Pemilik Kecerdasan Sejati disaat dia berdoa diam-diam sang kakak memperhatikan dengan iba,bertahun-tahun dia juga ikut merasakan cobaan sang adik laki-lakinya ini.
Akhirnya Sang Pemilik Takdir memberikan jawaban atas permasalahan sang adik ini keesokan harinya melalui kakak laki-lakinya.disaat dia belajar kakaknya bertanya “sebenarnya apa masalahmu hingga kamu sulit memahami pelajaran ?” adiknya menjawab “saya sendiri juga tidak tahu mas.padahal juga sudah belajar dengan giat” sebenarnya kakaknya pun sudah tahu bahwa adiknya ini sudah rajin belajar,entah dapat kalimat dari mana sang kakak berucap “KALAU SEMUA USAHA SUDAH KAU LAKUKAN APALAGI YANG HARUS KAU RISAUKAN ?,PASRAHKAN HASIL AKHIR KEPADA ALLAH SWT,DAN SEKARANG COBA KAU GETARKAN PINTU LANGIT !!!”.
Mendengar ucapan kakaknya itu si adik ini kurang paham dengan maksud kakaknya yang “mengetarkan pintu langit” kemudian kakaknya dengan penuh kasih sayang memberi tahu caranya untuk mengetarkan pintu langit yang dimaksud tadi,dia menyuruh adiknya untuk “Tirakat” dengan berpuasa senin – kamis dan sholat dhuha secara istiqomah tak lupa dianjurkan juga untuk bangun di sepertiga malam melakukan sholat malam hanya ketiga hal itulah yang kakaknya anjurkan disamping terus belajar dengan rajin kakaknya juga tidak berani menganjurkan yang lainnya karena hanya amalan itulah yang dilakukan juga oleh kakaknya.
Setahun berselang selama itu pula lah dia berpuasa senin-kamis dengan kakaknya,Alhamdulillah dia pun lulus SMU pada akhirnya tibalah anak ini mengikuti UMPTN dia mengambil salah satu jurusan yang mematok gride rendah (mungkin dia sadar akan kemampuanya).malam sebelum pengumuman UMPTN dicetak disurat kabar,dia terbangun disepertiga malam melakukan sholat dan brdzikir berjam-jam setelah mendengar adzan subuh dia berjalan menuju masjid tuk sholat subuh berjama’ah,tepat pukul 7 pagi dia pulang sambil membawa surat kabar dia berjalan dengan gagah dan wajahnya dihiasi dengan senyum terindahnya dia langsung memamerkan kepada orang tuanya BAHWA DIA BERHASIL DITERIMA DI PERGURUAN TINGGI NEGERI DENGAN MENYISIHKAN RATUSAN PELAJAR LAINYA. Orang tuanya pun bangga kepadanya sang kakak yang juga ikut bangga langsung menyuruhnya untuk sujud syukur atas apa yang telah Allah berikan kepadanya.
Selama kuliah dia selalu berprestasi sampai diajak oleh Dinas Pendidikan untuk melakukan penelitian di sebuah desa terpencil di pedalaman pulau Kalimantan,tak terasa waktu perkuliahanya berjalan dengan cepat dia pun berhasil lulus dengan predikat MEMUASKAN.setalah lulus kuliah dia langsung melanjutkan kuliah lagi untuk mengambil gelar profesi.
Sekarang dia sudah bekerja menjadi seorang Guru karirnya pun terbilang cukup bagus,dia pun menjelma menjadi seorang guru yang dicintai oleh murid-muridnya,dia pun tak sungkan-sungkan tuk datang kerumah-rumah muridnya yang bermasalah baik dalam nilai ataupun kenakalan-kenakalan muridnya,sengaja dia datangi untuk mencari solusi terbaik dengan wali murid/orang tua-orang tua muridnya.
Ya sebuah kisah kehidupan dari perjuangan seorang anak yang pantang menyerah dan selalu berfikir positif kepada Tuhannya,terbukti bahwa Allah selalu mendengarkan semua permintaan/doa-doa hambaNya. Kita dilahirkan kedunia tanpa membawa apapun selain rasa ketuhanan,kehidupan yang kita jalani atau apapun pemberian Allah kepada kita adalah sebuah karunia dan patut kita syukuri.Usaha,Doa serta kesabaran anak ini pun berhasil mengetuk pintu langit…
(Aku…dilhami dari sebuah kisah nyata…17 Ramadhan 143 H )
Anak ini bukanlah seorang anak yang pemalas mungkin karena tingkat kecerdasanya yang rendah sehingga dia sangat sulit untuk memahami semua pelajaran,orang tuanya pun tak lelah mengingatkan dia untuk selalu belajar dengan giat bahkan demi sang anak si ibu anak ini rela kesana - kemari mencari soal – soal buat dia bekal belajar tiap akan menghadapi ujian catur wulan maupun ujian kenaikan kelas tapi tetap aja hasilnya nilainya selalu paling rendah dia juga bukan anak yang tergolong nakal di sekolah,bisa jadi anak ini bisa naik kelas karena tingkah lakunya yang baik dan sopan kepada guru maupun teman-temannya.
Raut wajah kesedihan selalu menghiasi wajahnya disetiap pembagian rapot,depresi selalu melandanya,minder pun selalu menghampirinya apalagi anak ini memiliki kakak laki-laki yang tergolong cerdas sehingga dia merasa sebagai anak yang paling bodoh di sekolah maupun dirumah.Hanya pendidikan Agamalah yang dia kuasai maklum aja karena dari kecil (sebelum masuk TK) dia sudah di ngajikan oleh orang tuanya jadi untuk mata pelajaran Agama bisa dikatakan yang paling unggul dari pada mata pelajaran yang lainya.
Tahun demi tahun tingkat pendidikan dia lalui dan nilai terendah diantara teman-temanya sudah melekat padanya.Tak ada seorang pun yang mampu memberikan jalan keluar kepadanya agar menjadi seorang pelajar yang pandai.padahal belajar tiap hari maupun ikut les (bimbel) sudah ia lakukan akan tetapi tetap saja nilai yang dia dapat pas-pasan.Kekeecewaan lah yang selalu ia dapatkan.
Disaat dia memasuki jenjang Sekolah Menengah Umum (SMU) dikelas 3,di suatu malam ramadhan dia melakukan sholat malam,diapun memanjatkan doa-doa sekaligus memuntahkan uneg-uneg nya kepada Sang Pemilik Kecerdasan Sejati disaat dia berdoa diam-diam sang kakak memperhatikan dengan iba,bertahun-tahun dia juga ikut merasakan cobaan sang adik laki-lakinya ini.
Akhirnya Sang Pemilik Takdir memberikan jawaban atas permasalahan sang adik ini keesokan harinya melalui kakak laki-lakinya.disaat dia belajar kakaknya bertanya “sebenarnya apa masalahmu hingga kamu sulit memahami pelajaran ?” adiknya menjawab “saya sendiri juga tidak tahu mas.padahal juga sudah belajar dengan giat” sebenarnya kakaknya pun sudah tahu bahwa adiknya ini sudah rajin belajar,entah dapat kalimat dari mana sang kakak berucap “KALAU SEMUA USAHA SUDAH KAU LAKUKAN APALAGI YANG HARUS KAU RISAUKAN ?,PASRAHKAN HASIL AKHIR KEPADA ALLAH SWT,DAN SEKARANG COBA KAU GETARKAN PINTU LANGIT !!!”.
Mendengar ucapan kakaknya itu si adik ini kurang paham dengan maksud kakaknya yang “mengetarkan pintu langit” kemudian kakaknya dengan penuh kasih sayang memberi tahu caranya untuk mengetarkan pintu langit yang dimaksud tadi,dia menyuruh adiknya untuk “Tirakat” dengan berpuasa senin – kamis dan sholat dhuha secara istiqomah tak lupa dianjurkan juga untuk bangun di sepertiga malam melakukan sholat malam hanya ketiga hal itulah yang kakaknya anjurkan disamping terus belajar dengan rajin kakaknya juga tidak berani menganjurkan yang lainnya karena hanya amalan itulah yang dilakukan juga oleh kakaknya.
Setahun berselang selama itu pula lah dia berpuasa senin-kamis dengan kakaknya,Alhamdulillah dia pun lulus SMU pada akhirnya tibalah anak ini mengikuti UMPTN dia mengambil salah satu jurusan yang mematok gride rendah (mungkin dia sadar akan kemampuanya).malam sebelum pengumuman UMPTN dicetak disurat kabar,dia terbangun disepertiga malam melakukan sholat dan brdzikir berjam-jam setelah mendengar adzan subuh dia berjalan menuju masjid tuk sholat subuh berjama’ah,tepat pukul 7 pagi dia pulang sambil membawa surat kabar dia berjalan dengan gagah dan wajahnya dihiasi dengan senyum terindahnya dia langsung memamerkan kepada orang tuanya BAHWA DIA BERHASIL DITERIMA DI PERGURUAN TINGGI NEGERI DENGAN MENYISIHKAN RATUSAN PELAJAR LAINYA. Orang tuanya pun bangga kepadanya sang kakak yang juga ikut bangga langsung menyuruhnya untuk sujud syukur atas apa yang telah Allah berikan kepadanya.
Selama kuliah dia selalu berprestasi sampai diajak oleh Dinas Pendidikan untuk melakukan penelitian di sebuah desa terpencil di pedalaman pulau Kalimantan,tak terasa waktu perkuliahanya berjalan dengan cepat dia pun berhasil lulus dengan predikat MEMUASKAN.setalah lulus kuliah dia langsung melanjutkan kuliah lagi untuk mengambil gelar profesi.
Sekarang dia sudah bekerja menjadi seorang Guru karirnya pun terbilang cukup bagus,dia pun menjelma menjadi seorang guru yang dicintai oleh murid-muridnya,dia pun tak sungkan-sungkan tuk datang kerumah-rumah muridnya yang bermasalah baik dalam nilai ataupun kenakalan-kenakalan muridnya,sengaja dia datangi untuk mencari solusi terbaik dengan wali murid/orang tua-orang tua muridnya.
Ya sebuah kisah kehidupan dari perjuangan seorang anak yang pantang menyerah dan selalu berfikir positif kepada Tuhannya,terbukti bahwa Allah selalu mendengarkan semua permintaan/doa-doa hambaNya. Kita dilahirkan kedunia tanpa membawa apapun selain rasa ketuhanan,kehidupan yang kita jalani atau apapun pemberian Allah kepada kita adalah sebuah karunia dan patut kita syukuri.Usaha,Doa serta kesabaran anak ini pun berhasil mengetuk pintu langit…
(Aku…dilhami dari sebuah kisah nyata…17 Ramadhan 143 H )
Label:
Cerpen
Selasa, 03 Agustus 2010
Belajar Kepada Orang Gila !!!
Belajar kepada orang waras dan pintar itu biasa
tapi belajar kepada orang GILA itu baru luar biasa !!!.
Gak tau kenapa tiba2 dua kalimat itu terlintas begitu saja dalam otakku di pagi buta di saat mentari malu2 memancarkan sinarnya...awalnya aq cm tersenyum dan berguman "ternyata aq sudah mulai gila" dan anehnya kegilaanku semakin menjadi karena 2 kalimat tadi terus berseliweran di otakku tuk mengajakku berlari-lari !.sambil menulis catatan ini kegilaanku semakin menjadi2...hahaha.entah akan bermuara apa dan kemana tulisanku ini
Dengan hanya berbekal "Bismillah RR" aq ikuti kegilaan itu...pertama keluar sebuah pertanyaan apa yg harus aq pelajari dari ORANG GILA yg ada dijalanan ???.....lama aq memikirkan jawabanya tapi tak ketemu juga malahan semakin timbul pertanyaan-pertanyaan gila yg mungkin belum terpikirkan oleh semua manusia waras seperti qt semua !!!.
Pertanyaan itu adalah :
1. Orang Gila kok gak masuk angin padahal mereka tidak pake baju ?
2. Orang Gila kok gak sakit perut/diare padahal makan makanan basi ?
3. Orang Gila kok gak gatal semua badanya padahal jarang mandi ?
4. orang Gila kok mudah sekali tersenyum kepada semua orang ?
5. Orang Gila kok mudah sekali tertawa sekan2 hidupnya selalu bahagia ?
Jawabannya dari kelima pertanyaan diatas saja aq belum bisa jawab malah masih ada puluhan lagi pertanyaan2 di otakku...andaikan aq seorang milliader aq akan kerahkan semua uangku tuk buat penelitian guna mencari jawaban2 dari semua pertanyaan2 itu akan kukerahkan semua orang2 ahli tuk cari jawabanya !.
Ya sudahlah dari pada semua orang2 yg masuk pagi pada datang semua mending aq akhiri aja kegilaanku dari pada di panggilkan Satpol PP terus aq dibawa ke dokter jiwa !..hahahaha.
Jujur aq tetap tidak menemukan jawabannya...aq kembalikan aja semua kepada Sang Pelindung Orang Gila...Alhamdulillah setelah itu pertanyaan2 yg byk bersliweran diotakku menjadi sedikit demi sedikit mulai sirna yang timbul adalah sedikit pencerahan hikmah dihati...
Aq jadi tersadar kembali bahwa Allah tidak pernah membeda2kan hambanya kecuali ketakwaannya !.
orang gila juga dicintai oleh Sang Maha Memncintai dgn memebebaskanya dari segala hukum n aturan langit,Bahkan dengan cintaNya mereka tidak pernah sakit walau tanpa baju,jarang mandi ataupun makan makanan basi dan kehidupan mereka dibuat selalu bahagia + tanpa beban dengan mudah tersenyum dan tertawa lepas !.
Ya bagaimanapun juga Allah lah Sang Penjaga mereka dari semua kesakitan dan kegelisahan hidup....
ya mungkin minimal aq bisa belajar kepada mereka tuk tersenyum kepada siapa saja terlebih itu lawan atau kawan !.
aku.....210710
tapi belajar kepada orang GILA itu baru luar biasa !!!.
Gak tau kenapa tiba2 dua kalimat itu terlintas begitu saja dalam otakku di pagi buta di saat mentari malu2 memancarkan sinarnya...awalnya aq cm tersenyum dan berguman "ternyata aq sudah mulai gila" dan anehnya kegilaanku semakin menjadi karena 2 kalimat tadi terus berseliweran di otakku tuk mengajakku berlari-lari !.sambil menulis catatan ini kegilaanku semakin menjadi2...hahaha.entah akan bermuara apa dan kemana tulisanku ini
Dengan hanya berbekal "Bismillah RR" aq ikuti kegilaan itu...pertama keluar sebuah pertanyaan apa yg harus aq pelajari dari ORANG GILA yg ada dijalanan ???.....lama aq memikirkan jawabanya tapi tak ketemu juga malahan semakin timbul pertanyaan-pertanyaan gila yg mungkin belum terpikirkan oleh semua manusia waras seperti qt semua !!!.
Pertanyaan itu adalah :
1. Orang Gila kok gak masuk angin padahal mereka tidak pake baju ?
2. Orang Gila kok gak sakit perut/diare padahal makan makanan basi ?
3. Orang Gila kok gak gatal semua badanya padahal jarang mandi ?
4. orang Gila kok mudah sekali tersenyum kepada semua orang ?
5. Orang Gila kok mudah sekali tertawa sekan2 hidupnya selalu bahagia ?
Jawabannya dari kelima pertanyaan diatas saja aq belum bisa jawab malah masih ada puluhan lagi pertanyaan2 di otakku...andaikan aq seorang milliader aq akan kerahkan semua uangku tuk buat penelitian guna mencari jawaban2 dari semua pertanyaan2 itu akan kukerahkan semua orang2 ahli tuk cari jawabanya !.
Ya sudahlah dari pada semua orang2 yg masuk pagi pada datang semua mending aq akhiri aja kegilaanku dari pada di panggilkan Satpol PP terus aq dibawa ke dokter jiwa !..hahahaha.
Jujur aq tetap tidak menemukan jawabannya...aq kembalikan aja semua kepada Sang Pelindung Orang Gila...Alhamdulillah setelah itu pertanyaan2 yg byk bersliweran diotakku menjadi sedikit demi sedikit mulai sirna yang timbul adalah sedikit pencerahan hikmah dihati...
Aq jadi tersadar kembali bahwa Allah tidak pernah membeda2kan hambanya kecuali ketakwaannya !.
orang gila juga dicintai oleh Sang Maha Memncintai dgn memebebaskanya dari segala hukum n aturan langit,Bahkan dengan cintaNya mereka tidak pernah sakit walau tanpa baju,jarang mandi ataupun makan makanan basi dan kehidupan mereka dibuat selalu bahagia + tanpa beban dengan mudah tersenyum dan tertawa lepas !.
Ya bagaimanapun juga Allah lah Sang Penjaga mereka dari semua kesakitan dan kegelisahan hidup....
ya mungkin minimal aq bisa belajar kepada mereka tuk tersenyum kepada siapa saja terlebih itu lawan atau kawan !.
aku.....210710
Label:
Cerpen
Rabu, 28 Juli 2010
Kadang Kita Juga Perlu Belajar Kepada Seorang Anak Kecil !!!
Kubuka jendela tempatku kerja kulihat sang fajar mulai keluar dari persembunyiannya,akupun beranjak tuk keluar sekedar menikmati sinarnya,maklum semalaman aku bekerja di suatu ruangan berpendingin dan suhunya diatur tuk mesin bukan tuk manusia..he3.tuk lebih menghangatkan diri dan menghilangkan ngantuk aku pergi kewarung ngopi sambil menikmati minggu pagi di depan tempatku kerja…
Sambil menikmati kopi tiba-tiba mataku tertuju kepada sebuah keluarga kecil (Bapak+Ibu+Anak)yang lagi jalan – jalan pagi menikmati udara pagi sekaligus berolah raga…hemm lucu sekali anaknya mungkin kira2 berumur 1 atau 2 thn,anak laki-laki itu digendong sang bapak sambil menggoda bapaknya dengan menarik-narik jenggot si bapak.hehehe.si bapak tidak marah malah semakin asik mengoda si anak,ibunya hanya bisa tersenyum sambil sedikit melarang si anak agar tidak lagi menarik-narik jenggot si bapak yg sudah mulai meringgis kesakitan…
Keluarga tersebut semakin jauh menghilang dari pandanganku dan tanpa sadar secangkir kopiku sudah habis.aku pun beranjak tuk kembali lagi ke ruangan tempatku bekerja dalam perjalanan timbullah ide tuk bikin tulisan ini,aku memang bukan seorang penulis dan aku tidak paham tata cara penulisan yang baik dan benar tapi ini tulisanku kalau ada yang tidak suka atau tidak setuju ya terserah..hahaha
Mataku kembali menerawang melihat kelucuan si anak kecil tadi,entah mengapa semua memori-memori tentang tingkah-tingkah bocah lucu keluar semua dari otaku,dari situ kembali muncul ide gila tuk “Belajar Kepada Anak Kecil”.apakah ini gak aneh ?.lah wong belajar kok sama anak kecil !.tidak ini tidak aneh !.bukankah qt dianjurkan tuk IQRO (bacalah !).Dulu Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali bukankah “IQRO” lah apa yg dibaca ?.al qur’an ?.aku rasa bukan al qur’an karena pada waktu itu al qur’an belum ada, jadi apa yang di baca ???.ya yang dibaca ya alam semesta ini beserta mahkluk2Nya…sebuah diskusi hebat hadir dihatiku.
Kumulai membaca/mempelajari tingkah laku anak-anak kecil dari memori-memori penglihatanku yang muncul berserakan,betapa hebatnya jadi anak kecil aturan langitpun tidak berlaku bagi mereka dosapun tidak mungkin tercatat di cacatan kehidupan mereka sebelum mereka beranjak dewasa (baliq).hehe.Betapa irinya aq ingin rasanya kembali kecil lagi…
Kulihat anak kecil yang sedang belajar berjalan,berkali-kali dia terjatuh dan menangis akan tetapi dia tidak pernah menyerah dia tetap bangkit dan bangkit lagi tuk berdiri dan mencoba berjalan lagi sampai bisa..Betapa hebatnya semangatnya bandingkan dengan diri kita, ketika kita mengalami sebuah kegagalan saja kita sudah menyerah dan berputus asa,ternyata semangat kita kalah dengan semangat dan perjuangan kita diwaktu kecil…
Kulihat anak kecil yang sedang bermain bersama temanya,kemudian mereka bertengkar berebut mainan dan menagislah mereka karena pertengkaran kecil tadi tapi coba lihat selang beberapa waktu mereka kembali bermain bersama dan tertawa bersama seakan-akan lupa dengan pertengkaran barusan…Betapa hebatnya sikap saling memaafkan mereka di bandingkan kita yang bertengkar karena hal sepele atau hanya salah paham saja bisa bermusuhan lama dan bahkan sampai saling menjelekan satu sama lain ternyata kita lebih bisa/mudah memaafkan dan menghargai orang lain di waktu kecil..
Dari kedua paragraf diatas kutemukan sebuah jawaban kenapa Allah membebaskan seorang anak kecil yg belum baliq dari dosa maupun aturan langit…ya hati mereka memang benar-benar bersih seorang anak kecil tidak mudah berputus asa mereka juga sangat pemaaf .
Kadang qt terlalu angkuh tuk berkata “Tingkahmu Kayak anak kecil !”,ya boleh2 saja berkata seperti itu tapi kadang kedewasaan kita terlalu sombong tuk melupakan ajaran-ajaran mulia dari seorang anak kecil,kedewasaan qt terlalu terlalu pikun tuk menginggat kemulian-kemuliaan tingkah kita di waktu kita kecil…Astaugfirrlah.
Aku...25072010
Sambil menikmati kopi tiba-tiba mataku tertuju kepada sebuah keluarga kecil (Bapak+Ibu+Anak)yang lagi jalan – jalan pagi menikmati udara pagi sekaligus berolah raga…hemm lucu sekali anaknya mungkin kira2 berumur 1 atau 2 thn,anak laki-laki itu digendong sang bapak sambil menggoda bapaknya dengan menarik-narik jenggot si bapak.hehehe.si bapak tidak marah malah semakin asik mengoda si anak,ibunya hanya bisa tersenyum sambil sedikit melarang si anak agar tidak lagi menarik-narik jenggot si bapak yg sudah mulai meringgis kesakitan…
Keluarga tersebut semakin jauh menghilang dari pandanganku dan tanpa sadar secangkir kopiku sudah habis.aku pun beranjak tuk kembali lagi ke ruangan tempatku bekerja dalam perjalanan timbullah ide tuk bikin tulisan ini,aku memang bukan seorang penulis dan aku tidak paham tata cara penulisan yang baik dan benar tapi ini tulisanku kalau ada yang tidak suka atau tidak setuju ya terserah..hahaha
Mataku kembali menerawang melihat kelucuan si anak kecil tadi,entah mengapa semua memori-memori tentang tingkah-tingkah bocah lucu keluar semua dari otaku,dari situ kembali muncul ide gila tuk “Belajar Kepada Anak Kecil”.apakah ini gak aneh ?.lah wong belajar kok sama anak kecil !.tidak ini tidak aneh !.bukankah qt dianjurkan tuk IQRO (bacalah !).Dulu Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali bukankah “IQRO” lah apa yg dibaca ?.al qur’an ?.aku rasa bukan al qur’an karena pada waktu itu al qur’an belum ada, jadi apa yang di baca ???.ya yang dibaca ya alam semesta ini beserta mahkluk2Nya…sebuah diskusi hebat hadir dihatiku.
Kumulai membaca/mempelajari tingkah laku anak-anak kecil dari memori-memori penglihatanku yang muncul berserakan,betapa hebatnya jadi anak kecil aturan langitpun tidak berlaku bagi mereka dosapun tidak mungkin tercatat di cacatan kehidupan mereka sebelum mereka beranjak dewasa (baliq).hehe.Betapa irinya aq ingin rasanya kembali kecil lagi…
Kulihat anak kecil yang sedang belajar berjalan,berkali-kali dia terjatuh dan menangis akan tetapi dia tidak pernah menyerah dia tetap bangkit dan bangkit lagi tuk berdiri dan mencoba berjalan lagi sampai bisa..Betapa hebatnya semangatnya bandingkan dengan diri kita, ketika kita mengalami sebuah kegagalan saja kita sudah menyerah dan berputus asa,ternyata semangat kita kalah dengan semangat dan perjuangan kita diwaktu kecil…
Kulihat anak kecil yang sedang bermain bersama temanya,kemudian mereka bertengkar berebut mainan dan menagislah mereka karena pertengkaran kecil tadi tapi coba lihat selang beberapa waktu mereka kembali bermain bersama dan tertawa bersama seakan-akan lupa dengan pertengkaran barusan…Betapa hebatnya sikap saling memaafkan mereka di bandingkan kita yang bertengkar karena hal sepele atau hanya salah paham saja bisa bermusuhan lama dan bahkan sampai saling menjelekan satu sama lain ternyata kita lebih bisa/mudah memaafkan dan menghargai orang lain di waktu kecil..
Dari kedua paragraf diatas kutemukan sebuah jawaban kenapa Allah membebaskan seorang anak kecil yg belum baliq dari dosa maupun aturan langit…ya hati mereka memang benar-benar bersih seorang anak kecil tidak mudah berputus asa mereka juga sangat pemaaf .
Kadang qt terlalu angkuh tuk berkata “Tingkahmu Kayak anak kecil !”,ya boleh2 saja berkata seperti itu tapi kadang kedewasaan kita terlalu sombong tuk melupakan ajaran-ajaran mulia dari seorang anak kecil,kedewasaan qt terlalu terlalu pikun tuk menginggat kemulian-kemuliaan tingkah kita di waktu kita kecil…Astaugfirrlah.
Aku...25072010
Label:
Cerpen
Jumat, 18 Juni 2010
Obrolan Warung Kopi II
Seperti biasanya sebelum berangkat kerja aku sempatkan mampir ke warung kopi kali ini adalah warkop mbah sidik,ya nama sang pemilik warkop dipanggil mbah karena memang usianya yang sudah uzur beliau hanya tinggal berdua dengan istrinya,mbah ni’ah biasa aku memanggilnya.malam itu warkop yg terletak di dekat salah satu universitas negeri terkemuka di surabaya tampak lumayan ramai mungkin karena bertepatan dengan malam jum’at legi,memang menurut hitungan orang jawa malam jum’at legi adalah malam yang baik buat mele’kan.kalau anda tanya kenapa ?,ya maaf aku tidak tahu silahkan tanya kepada yang paham tentang itu,yang saya tahu adalah hari jum’at adalah hari terbaik dari pada hari-hari lainya menurut agama ku (islam),nah menurut kalender islam malam jum’at sudah termasuk hari jum’at dan pada sepertiga malamnya siapa yang berdoa pada waktu itu doanya akan mudah dikabulkan oleh Allah.
Lagi enak-enaknya menikmati seruput demi seruput kopi ku,aku dikejutkan oleh panggilan teman lama saya...nama teman saya sebut saja Parjo.dia teman satu angkatan waktu kuliah dulu Cuma kita beda jurusan dia mengambil jurusan FISIP (S1),sedangkan aq hanya sekelas Diploma 3 otomatis aku lulus lebih dulu dari pada Parjo tapi mungkin ke enakan jadi aktivis sehingga sampai saat ini Parjo belum kelar - kelar kuliahnya.kesibukannya padat sekali selain menjadi aktivis Parjo juga sibuk dengan berbagai macam UKM – UKM di kampus yang diikutinya.
Sambil menikmati kopi Parjo banyak bercerita tentang kesibukanya itu.sekarang giliranku yang sekedar ingin basa basi bertanya “Jo apa kamu baru dari demo kok bawa poster-poster segala ?”,dengan tegas (ciri khas seorang aktivis) dia menjawab “ iya aq baru demo dari depan kedubes Amerika”,jawaban ini sbenarnya sudah bisa ditebak karena tadi aku sempat baca kalimat yang tertulis di salah satu poster yang di bawanya “TOLAK SEMUA PRODUK2 AMERIKA !!!”.belum sempat aku bertanya lagi dia sudah mengoceh kesana kemari menjelaskan semua alasan – alasan kenapa dia memembenci negara adaidaya itu.
Jenuh juga ternyata dari tadi dengerin kalimat-kalimat hujatan ke pada Amerika,bukanya aku ini orang yang pro Amerika tapi memang aku tidak tertarik untuk membahas atau malah ikut-ikutan setujuh dengan pendapatnya,aku lebih senang menjadi orang yang netral sajalah.sambil menghargainya bercerita tentang misi-misinya mensosialisakan untuk boikot produk – produk Amerika.tanpa sadar aku jadi agak ketawa sendiri dalam hati,entah itu bisikan setan atau malaikat tiba-tiba saja hati ini nyeletuk tanpa suara “ Parjo...Parjo mbok jadi orang itu jangan munafiq,mulutmu lantang berkoar-koar untuk boikot semua produk Amerika tapi tiap hari tanpa sadar dirimu selalu bergantung kepada produk-produk Amerika...sekarang coba lihat !.lah kamu itu kalau bikin makalah/proposal atau apapun tentang tulis menulis kamu masih pakai komputer dan bisa dipastikan OS (sistem operasi yg berada di komputer) yang kamu pakai itu WINDOWS !.itukan perangkat lunak bikinan Amerika !”.nah gara-gara suara hati ku itulah yang tadi bikin aku ketawa dalam hati juga.sempat terfikir ingin kuungkapkan saja !.
Tiba-tiba terdengar cletukan “benci yo benci mas tapi ojo berlebihan ora apik iku” Parjo dan aku mencoba mencari dari mana suara itu berasal belum sempat kami menemukan asal suara itu terdengar lagi “sepurane mas nek aku nyletuk ae”,ternyata suara itu berasal dari sampingku.itu suara mbah Bandi seorang tukang parkir dekat warkop itu,tanpa nunggu ba bi bu Parjo langsung berkomentar : “maksudte opo pak ?”. Parjo merasa tersinggung juga dengan cletukan mbah Bandi,smabil menikmati rokok sapu jagadnya mbah Bandi berkata “kebencianmu kepada Amerika itu terlalu berlebih mas,sesuatu yang berlebihan itu selalu menjadi tidak baik walaupun awalnya tujuannya baik” belum selesai mbah Bandi berkata Parjo langsung aja nyrocos dengan nada emosi plus rada menghina “bapak ini tahu apa,kuliah saja tidak pernah bahkan kalau pun sekolah pasti cuma tamatan SD,jangan-jangan bapak ini antek Amerika !”...wuih dengar perkataan parjo ingin skali cingkir kopiku ini tak keprukne ndase (dipukulkan kekepalanya),anehnya saat kulihat reaksi mbah Bandi beliau cuma tersenyum saja,rupanya mbah Bandi sudah ngusai ilmu sabar bagaimana tidak sudah direndahkan dan dihina seperti itu tidak ada sama sekali guratan mimik marah diwajahnya yang ada hanya kontur-kontur kriput.
Setelah Parjo diam mbah Bandi pun membalas dengan bercerita “memang aku ini tidak sekolah dulu sekolah rakyat aja cuma sampe kelas 3 gak bisa nglanjutin karena gak punya biaya tapi untungnya sudah bisa membaca dan menulis,sekarang coba aja renungkan ini dengan nuranimu,suatu yang berlebihan dampaknya akan menjadi tidak baik bahkan jika tersadar kamu akan malu dengan sikapmu yang terlalu berlebih itu,berlebihan akan membuat hatimu buta,kamu akan memandang sesuatu dengan tidak adil bisa jadi kamu akan kehilangan akal sehatmu bahkan bisa lebih buruk dari itu”.setelah memberikan sedikit perenungan mbah Bandi pamit karena ada mobil yang akan parkir.
Parjo masih termenung merenungkan perkatan mbah Bandi tadi,aku pun kembali membuka pembicaraan sedikit mengejek dan khas suroboyoan “mangkane ta dadi uwong iku mbok orah usah kemlinti/guayah cok !.sak iki gak usah jeruh-jeruh mikir kamu benci dengan amerika dan mau boikot produk2nya padahal kamu masih suka pake komputer lah iku opo gak produke amerika ???.semua hal yang tadinya tidak aku critakan akhirnya ku ceritakan setidaknya biar Parjo tersadar akan sikapnya.wes jo mulai sak iki janganlah melihat siapa yang menginngatkan tapi lihatlah apa yang diingatkanya, setelah itu aku sarankan parjo tuk meminta maaf atas perkataannya tadi kepada mbah Bandi.
Tanpa sadar jarum jam sudah menunjukan pukul 20.45 wib 15 menit lagi aku harus sudah berada di tempat kerja,saatnya aku menyudahi oboralan dengan Parjo,tak ada banyak kata yang bisa aku ucapkan lagi selain hanya berpesan jaga diri baik-baik segera diselesaikan kuliahnya dan kalaupun harus demo gunakan cara – cara yang manusiawi jangan sekali- kali dengan kekerasan karena kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah jagan lupa juga pesan mbah Bandi tadi bisa dipahami lebih dalam lagi.
Aku 19052010
Lagi enak-enaknya menikmati seruput demi seruput kopi ku,aku dikejutkan oleh panggilan teman lama saya...nama teman saya sebut saja Parjo.dia teman satu angkatan waktu kuliah dulu Cuma kita beda jurusan dia mengambil jurusan FISIP (S1),sedangkan aq hanya sekelas Diploma 3 otomatis aku lulus lebih dulu dari pada Parjo tapi mungkin ke enakan jadi aktivis sehingga sampai saat ini Parjo belum kelar - kelar kuliahnya.kesibukannya padat sekali selain menjadi aktivis Parjo juga sibuk dengan berbagai macam UKM – UKM di kampus yang diikutinya.
Sambil menikmati kopi Parjo banyak bercerita tentang kesibukanya itu.sekarang giliranku yang sekedar ingin basa basi bertanya “Jo apa kamu baru dari demo kok bawa poster-poster segala ?”,dengan tegas (ciri khas seorang aktivis) dia menjawab “ iya aq baru demo dari depan kedubes Amerika”,jawaban ini sbenarnya sudah bisa ditebak karena tadi aku sempat baca kalimat yang tertulis di salah satu poster yang di bawanya “TOLAK SEMUA PRODUK2 AMERIKA !!!”.belum sempat aku bertanya lagi dia sudah mengoceh kesana kemari menjelaskan semua alasan – alasan kenapa dia memembenci negara adaidaya itu.
Jenuh juga ternyata dari tadi dengerin kalimat-kalimat hujatan ke pada Amerika,bukanya aku ini orang yang pro Amerika tapi memang aku tidak tertarik untuk membahas atau malah ikut-ikutan setujuh dengan pendapatnya,aku lebih senang menjadi orang yang netral sajalah.sambil menghargainya bercerita tentang misi-misinya mensosialisakan untuk boikot produk – produk Amerika.tanpa sadar aku jadi agak ketawa sendiri dalam hati,entah itu bisikan setan atau malaikat tiba-tiba saja hati ini nyeletuk tanpa suara “ Parjo...Parjo mbok jadi orang itu jangan munafiq,mulutmu lantang berkoar-koar untuk boikot semua produk Amerika tapi tiap hari tanpa sadar dirimu selalu bergantung kepada produk-produk Amerika...sekarang coba lihat !.lah kamu itu kalau bikin makalah/proposal atau apapun tentang tulis menulis kamu masih pakai komputer dan bisa dipastikan OS (sistem operasi yg berada di komputer) yang kamu pakai itu WINDOWS !.itukan perangkat lunak bikinan Amerika !”.nah gara-gara suara hati ku itulah yang tadi bikin aku ketawa dalam hati juga.sempat terfikir ingin kuungkapkan saja !.
Tiba-tiba terdengar cletukan “benci yo benci mas tapi ojo berlebihan ora apik iku” Parjo dan aku mencoba mencari dari mana suara itu berasal belum sempat kami menemukan asal suara itu terdengar lagi “sepurane mas nek aku nyletuk ae”,ternyata suara itu berasal dari sampingku.itu suara mbah Bandi seorang tukang parkir dekat warkop itu,tanpa nunggu ba bi bu Parjo langsung berkomentar : “maksudte opo pak ?”. Parjo merasa tersinggung juga dengan cletukan mbah Bandi,smabil menikmati rokok sapu jagadnya mbah Bandi berkata “kebencianmu kepada Amerika itu terlalu berlebih mas,sesuatu yang berlebihan itu selalu menjadi tidak baik walaupun awalnya tujuannya baik” belum selesai mbah Bandi berkata Parjo langsung aja nyrocos dengan nada emosi plus rada menghina “bapak ini tahu apa,kuliah saja tidak pernah bahkan kalau pun sekolah pasti cuma tamatan SD,jangan-jangan bapak ini antek Amerika !”...wuih dengar perkataan parjo ingin skali cingkir kopiku ini tak keprukne ndase (dipukulkan kekepalanya),anehnya saat kulihat reaksi mbah Bandi beliau cuma tersenyum saja,rupanya mbah Bandi sudah ngusai ilmu sabar bagaimana tidak sudah direndahkan dan dihina seperti itu tidak ada sama sekali guratan mimik marah diwajahnya yang ada hanya kontur-kontur kriput.
Setelah Parjo diam mbah Bandi pun membalas dengan bercerita “memang aku ini tidak sekolah dulu sekolah rakyat aja cuma sampe kelas 3 gak bisa nglanjutin karena gak punya biaya tapi untungnya sudah bisa membaca dan menulis,sekarang coba aja renungkan ini dengan nuranimu,suatu yang berlebihan dampaknya akan menjadi tidak baik bahkan jika tersadar kamu akan malu dengan sikapmu yang terlalu berlebih itu,berlebihan akan membuat hatimu buta,kamu akan memandang sesuatu dengan tidak adil bisa jadi kamu akan kehilangan akal sehatmu bahkan bisa lebih buruk dari itu”.setelah memberikan sedikit perenungan mbah Bandi pamit karena ada mobil yang akan parkir.
Parjo masih termenung merenungkan perkatan mbah Bandi tadi,aku pun kembali membuka pembicaraan sedikit mengejek dan khas suroboyoan “mangkane ta dadi uwong iku mbok orah usah kemlinti/guayah cok !.sak iki gak usah jeruh-jeruh mikir kamu benci dengan amerika dan mau boikot produk2nya padahal kamu masih suka pake komputer lah iku opo gak produke amerika ???.semua hal yang tadinya tidak aku critakan akhirnya ku ceritakan setidaknya biar Parjo tersadar akan sikapnya.wes jo mulai sak iki janganlah melihat siapa yang menginngatkan tapi lihatlah apa yang diingatkanya, setelah itu aku sarankan parjo tuk meminta maaf atas perkataannya tadi kepada mbah Bandi.
Tanpa sadar jarum jam sudah menunjukan pukul 20.45 wib 15 menit lagi aku harus sudah berada di tempat kerja,saatnya aku menyudahi oboralan dengan Parjo,tak ada banyak kata yang bisa aku ucapkan lagi selain hanya berpesan jaga diri baik-baik segera diselesaikan kuliahnya dan kalaupun harus demo gunakan cara – cara yang manusiawi jangan sekali- kali dengan kekerasan karena kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah jagan lupa juga pesan mbah Bandi tadi bisa dipahami lebih dalam lagi.
Aku 19052010
Label:
Cerpen
Minggu, 06 Juni 2010
Nabi Adam pun Iri Kepada Kita...
Dalam suatu dialog imajiner dan disuatu momentum waktu,di malam yang hening kulihat Nabi Adam As. beliau termenung seketika itu ku beranikan diri bertanya “ Ya nabi Adam, apa gerangan yang membuat panjenengan termenung ?” Nabi Adam pun terkejut akan kehadiranku yang tidak disadarinya,beliau menghela nafas panjang lalu mempersilahkan aku duduk disampingnya,aku pun menuruti perintahnya dengan duduk disampingnya akan tetapi aku malu duduk terlalu dekat dengan seorang Nabi,aku sadar akan ketidaksucianku akan dosa-dosaku.
Setelah aku duduk disampingnya beliau menjawab pertanyaanku tadi “ aku merasa iri kepada umat Nabi Muhammad SAW,ya kepadamu sebagai salah satu dari umatnya“.mendengar jawaban itu seakan-akan peredaran darahku terhenti seketika karena terkejut.sambil menunggu peredaranku normal kembali aku berfikir kok bisa seorang nabi pastilah sangat dipercaya dan dicintai oleh Allah melebihi cinta Allah kepada umat Muhammad. Dengan rasa penasaran yang sangat aku bertanya “apa yang membuat njenengan iri kepada umat Muhammad ?”
“Ada 4 hal yang membuat aku (Nabi Adam) merasa iri dan 4 hal itu juga merupakan keutamaan yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad” .”Maaf kiranya Nabi berkenan untuk menjelaskan kepada saya apa saja ke empat keutamaan itu yang bisa membuat Nabi merasa iri kepada umat Nabi Muhammad ?”.tanya ku lagi penasaran,…
PERTAMA “ dulu ketika aku bertaubat akan dosa-dosaku kepada Allah swt,Allah menerima taubatku di Makkah akan tetapi untuk umat Muhammad, di muka bumi bagian manapun taubat mereka bisa diterima”.
KEDUA “ dulu ketika aku melakukan maksiat kepada Allah seketika itu pakaianku terlepas dari tubuhku,akan tetapi untuk umat Muhammad ketika mereka durhaka kepada Allah mereka tidak dilepaskan pakaianya oleh Allah”
KETIGA “ dulu ketika aku melanggar larangan Allah dalam kurun waktu yang sangat lama aku dipisahkan dari istriku tercinta, akan tetapi untuk umat Muhammad, ketika mereka melanggar larangan Allah mereka tidak dipisahkan dari istri mereka”
KEEMPAT “ dulu aku melakukan dosa di surga kemudian diusir ke dunia,akan tetapi untuk umat Muhammad,mereka melakukan dosa di dunia akan tetapi jika mereka mau bertaubat dari dosa2nya mereka kelak akan di tempatkan di surga”.
Kali ini jantungku yang sekan-akan terhenti seketika mendengar semua penjelasan Nabi Adam, baru aku sadari bahwa kita sebagai umat nabi Muhammad sangat di manja dan sangat dicintai sekali oleh Allah betapa hebatnya keutamaan yang di berikan kepada kita akan tetapi tidak diberikan kepada nabi Adam,coba kita bayangkan andaikan kita tidak diberi keutamaan seperti itu ?.sanggupkah kita menjalani atau merasakan apa yang Nabi Adam rasakan di kala itu ?.Nikmat Allah mana lagi yang harus aku ingkari,jantungku yg masih berdetak ini saja sudah merupakan kenikmatan yang luar biasa.
Sungguh sangat beruntung sekali kita bisa menjadi umat Nabi Muhammad saw sang kekasih Allah tercinta,bisa jadi ini semua berkat seorang manusia terbaik dari manuisa – manusia yang pernah Allah ciptakan , ya seorang pemimpin umat terhebat seorang Nabi terakhir dan terbesar Muahmmad saw.bahkan ketika beliau akan diambil nyawanya masih memikirkan umatnya...sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan rasa syukurku kepada Allah bisa berdiri di bawah bendera Nabi Muhammad saw.
Aku...060610
Setelah aku duduk disampingnya beliau menjawab pertanyaanku tadi “ aku merasa iri kepada umat Nabi Muhammad SAW,ya kepadamu sebagai salah satu dari umatnya“.mendengar jawaban itu seakan-akan peredaran darahku terhenti seketika karena terkejut.sambil menunggu peredaranku normal kembali aku berfikir kok bisa seorang nabi pastilah sangat dipercaya dan dicintai oleh Allah melebihi cinta Allah kepada umat Muhammad. Dengan rasa penasaran yang sangat aku bertanya “apa yang membuat njenengan iri kepada umat Muhammad ?”
“Ada 4 hal yang membuat aku (Nabi Adam) merasa iri dan 4 hal itu juga merupakan keutamaan yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad” .”Maaf kiranya Nabi berkenan untuk menjelaskan kepada saya apa saja ke empat keutamaan itu yang bisa membuat Nabi merasa iri kepada umat Nabi Muhammad ?”.tanya ku lagi penasaran,…
PERTAMA “ dulu ketika aku bertaubat akan dosa-dosaku kepada Allah swt,Allah menerima taubatku di Makkah akan tetapi untuk umat Muhammad, di muka bumi bagian manapun taubat mereka bisa diterima”.
KEDUA “ dulu ketika aku melakukan maksiat kepada Allah seketika itu pakaianku terlepas dari tubuhku,akan tetapi untuk umat Muhammad ketika mereka durhaka kepada Allah mereka tidak dilepaskan pakaianya oleh Allah”
KETIGA “ dulu ketika aku melanggar larangan Allah dalam kurun waktu yang sangat lama aku dipisahkan dari istriku tercinta, akan tetapi untuk umat Muhammad, ketika mereka melanggar larangan Allah mereka tidak dipisahkan dari istri mereka”
KEEMPAT “ dulu aku melakukan dosa di surga kemudian diusir ke dunia,akan tetapi untuk umat Muhammad,mereka melakukan dosa di dunia akan tetapi jika mereka mau bertaubat dari dosa2nya mereka kelak akan di tempatkan di surga”.
Kali ini jantungku yang sekan-akan terhenti seketika mendengar semua penjelasan Nabi Adam, baru aku sadari bahwa kita sebagai umat nabi Muhammad sangat di manja dan sangat dicintai sekali oleh Allah betapa hebatnya keutamaan yang di berikan kepada kita akan tetapi tidak diberikan kepada nabi Adam,coba kita bayangkan andaikan kita tidak diberi keutamaan seperti itu ?.sanggupkah kita menjalani atau merasakan apa yang Nabi Adam rasakan di kala itu ?.Nikmat Allah mana lagi yang harus aku ingkari,jantungku yg masih berdetak ini saja sudah merupakan kenikmatan yang luar biasa.
Sungguh sangat beruntung sekali kita bisa menjadi umat Nabi Muhammad saw sang kekasih Allah tercinta,bisa jadi ini semua berkat seorang manusia terbaik dari manuisa – manusia yang pernah Allah ciptakan , ya seorang pemimpin umat terhebat seorang Nabi terakhir dan terbesar Muahmmad saw.bahkan ketika beliau akan diambil nyawanya masih memikirkan umatnya...sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan rasa syukurku kepada Allah bisa berdiri di bawah bendera Nabi Muhammad saw.
Aku...060610
Label:
Cerpen
Rabu, 21 April 2010
Obrolan di Warung Kopi....(Dilema Doa Seorang Dokter)
Malam semakin larut,dinginnya malam yang habis disirami hujan tak membuat langkahku surut tuk menuju Giras (sebuatan untuk warung kopi),seperti biasa aku pesan secangkir kopi dan segelas teh hangat “ Din kopi karo teh anget siji”....udin nama si penjaga Giras “ oh ya mas sebentar “.sambil menunggu kopi dibuat aku mengeluarkan sebatang rokok kemudian kunyalakan kuhisap dalam-dalam lalu kuhembuskan pelan-pelan dari hidung dan mulut nikmat sekali,disaat enak-enaknya menikmati sebatang rokok tiba-tiba ada suara seorang kakek tua mengagetkan keasyikanku “ maaf nak boleh pinjam koreknya “ sambil sedikit terkejut aku bilang “ oh monggo pak “ si kakek tua tadi langsung duduk disebelahku sambil menyalakan rokoknya kemudian dia juga memesan secangkir kopi “mas kopi pahit ya satu”....
Malam semakin dingin,semakin asyik buat menikmati kopi dan merenung atau tepatnya melamun.hehe.si kakek tadi membuyarkan lamunanku tiba-tiba dia bertanya “ wah nak ikut paham hukum rokok makruh ya ?” kaget juga aku dengan pertanyaan ini,gumanku dalam hati wah kok awal pembukaan ngobrol pertanyaanya masalah rokok,sepontan saja aku jawab “iya pak” (sambil cengar cengir).”lah bapak sendiri juga gitu toh ?”....si kakek tadi tertawa kecil..hehehe.”iya nak,lah iya kok smpe hukum rokok macam-macam ya ?”,kembali lagi aku jawab sekenanya “ya namanya manusia pak mreka boleh-boleh saja berijtihad tentang rokok,hasilnya pun juga bermacam2 ya monggo aja pengin ikut yg mana sah-sah aja” si kakek tadi langsung nyahut ya bener juga nak setahu saya dalam bahasa arab kata rokok itu tidak ada “...Glodak !.tambah kaget aku dibuat sama si kakek ini ternyata juga pandai bahasa arab jangan-jangan pemahamannya tentang islam ilmunya jauh melebihi ilmuku yg mungkin hanya paham tentang sholat ma iqro’ jilid III.qiqiqi...wah mumpung belum jauh pembicaraan tentang rokok ini,timbul niatan untuk mengalihkan pembicaraan dari pada aku gak bisa ngimbangi masalah agama...
“bapak masih kerja atau sudah pensiun ?”.tanyaku secepat kilat untuk mengalihkan pembicaraan,si bapak yg murah senyum ini kembali menjawab dengan senyumnya yang khas “oh bapak ini pensiunan tapi pensiunan anak muda”...huahuahaaaa.tertawa kita berdua memecah sunyinya malam,ternyata si kakek ini bisa juga melucu bikin ngobrol semakin nyaman....si kakek pun melanjutkan ceritanya bahwa sebenarnya dia mantan pejuang karena namanya tidak terdaftar di data base negara dia tidak termasuk atau tercatat sebagai veteran perang kemerdekaan jadi dia tidak mendapatkan pensiunan ataupun tunjangan dari pemerintah dan dihari tuanya sekarang dia bekerja serabutan hanya untuk mencari sesuap nasi bersama istrinya kebetulan selama kehidupannya si kakek ini tidak dikaruniai anak,sunguh memperihatinkan kehidupan seorang yang berjasa untuk kemerdekaan negara ini tapi setelah negara ini merdeka dia seakan-akan dilupakan oleh negaranya yang dulu ia bela dengan taruhan nyawa....tapi si kakek ini tidak menuntut apapun dari negara yang ia bela dengan taruhan nyawanya,dari cerita-ceritanya dia menjalani hidup ini penuh kesabaran,keiklasan dan mensyukuri apapun yang dia terima hal itu sangat terpancar sekali dari raut wajahnya yang penuh keceriaan seakan-akan hidup tiada beban mungkin dengan berbekal sikap-sikapnya dia siap kapanpun Sang Penguasa Takdir mengambil nyawanya....sungguh sebuah cerita hidup yang patut aku teladani.
“Lah smpeyan kerjo nang endi nak,opo sek kuliah ?”.kembali sebuah pertanyaan si kakek membuyarkan lamunanku yang dari tadi kagum akan perjalanan hidupnya...”saya sudah selesai kuliah dan sekarang bekerja pak di sebuah rumah sakit pemerintah”...”oh jadi dokter ya ?,pekerjaan mulia sekali itu”...(masih dengan senyumanya yang khas)..kembali aq tertawa nyengir..hehe.”bukan pak saya bukan dokter tapi tukang foto rongent”....”loh opo kuwi ?”..”ya bagian foto untuk mengetahui pasien ini patah tulang atau tidak, intinya untuk melihat organ-organ tubuh manusia bukan hanya tulang aja pak”....”ya..ya aq paham sekarang,maklum nak alhamdulilah bapak sama ibu di rumah selama hidup tidak pernah masuk rumah sakit nak paling-paling ya masuk angin itupun dikeroki ibu sudah sembuh paling parah ya dulu waktu kena pecahan martil belanda.”..sambil tetawa kecil si kakek menunjukan bekas luka di pundaknya yang terkena pecahan martil...subhanallah kuasa Allah dan kasih sayangNya kepada si kakek dan istrinya benar-benar mengetarkan hati ini sampe sekarang belum pernah Allah memberinya sakit yg sampe mengaharuskan dia opname di rumah sakit jangan-jangan kelak Allah memangilnya dalam keadaan tertidur pulas
“dokter itu lucu ya nak ?”,kembali si kakek melontarkan pembicaraan baru...”lucu bagaimana pak”.sahutku...”lah iya coba pikir profesinya menyembuhkan orang sakit tapi doanya tiap hari atau bahkan disetiap sholat-sholatnya selalu mendokaan supaya banyak orang sakit”...pusing aq di buatnya untuk memahami kalimat demi kalimat yang dilontarnya sekaligus penasaran maksud dari celotehannya ini,tanpa pikir panjang aq yang sedikit lemot dalam berfikir ini langsung bertanya dengan sedikit serius(maklum dari tadi pembicaraan kita ringan-ringan aja disertai tawa-tawa kecil...”maksud bapak bagaimana ?”..”sekarang gini coba besok kalau kerja tanya sama dokter-dokter di tempat anak kerja !”...”pak atau bu dokter kalau doa tiap hari seperti atau yang diminta ke Tuhan apa ?...”pasti si dokter disalah satu doanya minta supaya dapat banyak pasien sehingga rejekinya jadi banyak”...dari sini aq langsung mudeng apa yang dimaksud si kakek ini tapi aq sengaja untuk diam dan pura-pura tidak tahu maksudnya dengan harapan bisa banyak mendengarkan argumen atau ulasan dari si kakek ini yang dari dulu tidak terfikirkan sama sekali bahkan oleh seorang dokter pun ya mungkin juga ada sedikit sekali dokter yg paham akan ini...si kakek melanjutkan argumen nya “ya itulah nak salah satu sebuah dilema kehidupan yg kadang bisa bikin kita tertawa sendiri dibuatnya...lah iya masak seorang dokter yang tugasnya sangat mulia sekali tapi dalam doa-doanya terselip sebuah doa yang secara tidak langsung mendoakan orang sakit”..kembali dengan senyuman dan gayanya yang sedikit lucu dalam bercerita membuat kita berdua tertawa lagi memecah sunyinya malam...
Tak tersa hawa dinginya malam semakin menusuk tulang tanpa sadar jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas...”wah nak gak terasa ya waktu sudah tengah malam,wes bapak pamit dulu kasiahan ibu dirumah sendirian kedinginan waktunya bapak kasih nafkah batin”...hahahahha.kembali aq dibuatnya tertawa..”loh biarpun tua-tua gini bapak masih SIP !”..hahahaha...sampe sakit perutku dibuat tertawa terus sama si kakek ini tanpa pikir panjang aq lansung keluarkan uang untuk mbayari kopi si kakek ini,meskipun awalnya dia keberatan akhirnya dia mau juga aq traktir,bagiku apalah arti uang Rp.1000,- untuk kopinya dari pada ilmu/nasehat/cerita2 hidupnya yang bisa aq teladani dan aq ambil hikmahnya...si kakek pun melangkah pulang meninggalkanku yg masih mneghabiskan kopi dan teh yang aq pesan tadi,tanpa sadar aq lupa menayakan nama si kakek tadi...huft !.sangking enaknya ngobrol panjang lebar...ya mudah2n si kakek ini dikarunia hidup yang panjang dan kesehatan selalu sehingga bisa memberi wejangan-wejangan yg bermanfaat kepada orang lain...dalam perjalanan pulang aq berharap esok hari bisa bertemu dengannya lagi....
(tengah malam ditempatku kerja...19-20 April 2010)
Malam semakin dingin,semakin asyik buat menikmati kopi dan merenung atau tepatnya melamun.hehe.si kakek tadi membuyarkan lamunanku tiba-tiba dia bertanya “ wah nak ikut paham hukum rokok makruh ya ?” kaget juga aku dengan pertanyaan ini,gumanku dalam hati wah kok awal pembukaan ngobrol pertanyaanya masalah rokok,sepontan saja aku jawab “iya pak” (sambil cengar cengir).”lah bapak sendiri juga gitu toh ?”....si kakek tadi tertawa kecil..hehehe.”iya nak,lah iya kok smpe hukum rokok macam-macam ya ?”,kembali lagi aku jawab sekenanya “ya namanya manusia pak mreka boleh-boleh saja berijtihad tentang rokok,hasilnya pun juga bermacam2 ya monggo aja pengin ikut yg mana sah-sah aja” si kakek tadi langsung nyahut ya bener juga nak setahu saya dalam bahasa arab kata rokok itu tidak ada “...Glodak !.tambah kaget aku dibuat sama si kakek ini ternyata juga pandai bahasa arab jangan-jangan pemahamannya tentang islam ilmunya jauh melebihi ilmuku yg mungkin hanya paham tentang sholat ma iqro’ jilid III.qiqiqi...wah mumpung belum jauh pembicaraan tentang rokok ini,timbul niatan untuk mengalihkan pembicaraan dari pada aku gak bisa ngimbangi masalah agama...
“bapak masih kerja atau sudah pensiun ?”.tanyaku secepat kilat untuk mengalihkan pembicaraan,si bapak yg murah senyum ini kembali menjawab dengan senyumnya yang khas “oh bapak ini pensiunan tapi pensiunan anak muda”...huahuahaaaa.tertawa kita berdua memecah sunyinya malam,ternyata si kakek ini bisa juga melucu bikin ngobrol semakin nyaman....si kakek pun melanjutkan ceritanya bahwa sebenarnya dia mantan pejuang karena namanya tidak terdaftar di data base negara dia tidak termasuk atau tercatat sebagai veteran perang kemerdekaan jadi dia tidak mendapatkan pensiunan ataupun tunjangan dari pemerintah dan dihari tuanya sekarang dia bekerja serabutan hanya untuk mencari sesuap nasi bersama istrinya kebetulan selama kehidupannya si kakek ini tidak dikaruniai anak,sunguh memperihatinkan kehidupan seorang yang berjasa untuk kemerdekaan negara ini tapi setelah negara ini merdeka dia seakan-akan dilupakan oleh negaranya yang dulu ia bela dengan taruhan nyawa....tapi si kakek ini tidak menuntut apapun dari negara yang ia bela dengan taruhan nyawanya,dari cerita-ceritanya dia menjalani hidup ini penuh kesabaran,keiklasan dan mensyukuri apapun yang dia terima hal itu sangat terpancar sekali dari raut wajahnya yang penuh keceriaan seakan-akan hidup tiada beban mungkin dengan berbekal sikap-sikapnya dia siap kapanpun Sang Penguasa Takdir mengambil nyawanya....sungguh sebuah cerita hidup yang patut aku teladani.
“Lah smpeyan kerjo nang endi nak,opo sek kuliah ?”.kembali sebuah pertanyaan si kakek membuyarkan lamunanku yang dari tadi kagum akan perjalanan hidupnya...”saya sudah selesai kuliah dan sekarang bekerja pak di sebuah rumah sakit pemerintah”...”oh jadi dokter ya ?,pekerjaan mulia sekali itu”...(masih dengan senyumanya yang khas)..kembali aq tertawa nyengir..hehe.”bukan pak saya bukan dokter tapi tukang foto rongent”....”loh opo kuwi ?”..”ya bagian foto untuk mengetahui pasien ini patah tulang atau tidak, intinya untuk melihat organ-organ tubuh manusia bukan hanya tulang aja pak”....”ya..ya aq paham sekarang,maklum nak alhamdulilah bapak sama ibu di rumah selama hidup tidak pernah masuk rumah sakit nak paling-paling ya masuk angin itupun dikeroki ibu sudah sembuh paling parah ya dulu waktu kena pecahan martil belanda.”..sambil tetawa kecil si kakek menunjukan bekas luka di pundaknya yang terkena pecahan martil...subhanallah kuasa Allah dan kasih sayangNya kepada si kakek dan istrinya benar-benar mengetarkan hati ini sampe sekarang belum pernah Allah memberinya sakit yg sampe mengaharuskan dia opname di rumah sakit jangan-jangan kelak Allah memangilnya dalam keadaan tertidur pulas
“dokter itu lucu ya nak ?”,kembali si kakek melontarkan pembicaraan baru...”lucu bagaimana pak”.sahutku...”lah iya coba pikir profesinya menyembuhkan orang sakit tapi doanya tiap hari atau bahkan disetiap sholat-sholatnya selalu mendokaan supaya banyak orang sakit”...pusing aq di buatnya untuk memahami kalimat demi kalimat yang dilontarnya sekaligus penasaran maksud dari celotehannya ini,tanpa pikir panjang aq yang sedikit lemot dalam berfikir ini langsung bertanya dengan sedikit serius(maklum dari tadi pembicaraan kita ringan-ringan aja disertai tawa-tawa kecil...”maksud bapak bagaimana ?”..”sekarang gini coba besok kalau kerja tanya sama dokter-dokter di tempat anak kerja !”...”pak atau bu dokter kalau doa tiap hari seperti atau yang diminta ke Tuhan apa ?...”pasti si dokter disalah satu doanya minta supaya dapat banyak pasien sehingga rejekinya jadi banyak”...dari sini aq langsung mudeng apa yang dimaksud si kakek ini tapi aq sengaja untuk diam dan pura-pura tidak tahu maksudnya dengan harapan bisa banyak mendengarkan argumen atau ulasan dari si kakek ini yang dari dulu tidak terfikirkan sama sekali bahkan oleh seorang dokter pun ya mungkin juga ada sedikit sekali dokter yg paham akan ini...si kakek melanjutkan argumen nya “ya itulah nak salah satu sebuah dilema kehidupan yg kadang bisa bikin kita tertawa sendiri dibuatnya...lah iya masak seorang dokter yang tugasnya sangat mulia sekali tapi dalam doa-doanya terselip sebuah doa yang secara tidak langsung mendoakan orang sakit”..kembali dengan senyuman dan gayanya yang sedikit lucu dalam bercerita membuat kita berdua tertawa lagi memecah sunyinya malam...
Tak tersa hawa dinginya malam semakin menusuk tulang tanpa sadar jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas...”wah nak gak terasa ya waktu sudah tengah malam,wes bapak pamit dulu kasiahan ibu dirumah sendirian kedinginan waktunya bapak kasih nafkah batin”...hahahahha.kembali aq dibuatnya tertawa..”loh biarpun tua-tua gini bapak masih SIP !”..hahahaha...sampe sakit perutku dibuat tertawa terus sama si kakek ini tanpa pikir panjang aq lansung keluarkan uang untuk mbayari kopi si kakek ini,meskipun awalnya dia keberatan akhirnya dia mau juga aq traktir,bagiku apalah arti uang Rp.1000,- untuk kopinya dari pada ilmu/nasehat/cerita2 hidupnya yang bisa aq teladani dan aq ambil hikmahnya...si kakek pun melangkah pulang meninggalkanku yg masih mneghabiskan kopi dan teh yang aq pesan tadi,tanpa sadar aq lupa menayakan nama si kakek tadi...huft !.sangking enaknya ngobrol panjang lebar...ya mudah2n si kakek ini dikarunia hidup yang panjang dan kesehatan selalu sehingga bisa memberi wejangan-wejangan yg bermanfaat kepada orang lain...dalam perjalanan pulang aq berharap esok hari bisa bertemu dengannya lagi....
(tengah malam ditempatku kerja...19-20 April 2010)
Label:
Cerpen
Rabu, 07 April 2010
Bakso Khalifatullah
Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.
“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.
“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.
“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”
Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”
“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.
“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.
“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.
Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.
Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.
Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.
Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.
30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”
Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.
“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”
“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”
“Berarti saya hutang?”
“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.
Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!
Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah took kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika dating saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”
Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”
Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.
Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama. *****
oleh : Emha Ainun Najib
“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.
“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.
“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”
Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”
“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.
“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.
“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.
Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.
Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.
Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.
Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.
30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”
Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.
“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”
“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”
“Berarti saya hutang?”
“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.
Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!
Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah took kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika dating saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”
Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”
Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.
Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama. *****
oleh : Emha Ainun Najib
Label:
Cerpen
Sabtu, 03 April 2010
GUS JAKFAR
Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.
"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya."
"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya."
"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."
"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."
"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak ada angina, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi."
"Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.
"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."
***
Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.
"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?"
"Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu;" kata Lik Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah."
"Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau."
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan."
"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah."
"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau."
"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
"Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."
"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk."
'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?'
'Kiai Tawakkal.'
'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'
"Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu."
"Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!"
"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka."
"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya."
"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang."
"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.
'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!' Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan".
"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk."
"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah."
'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."
"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.'
Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara.
'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?'
Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak'
Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.
'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."
"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.'
'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru.
'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.'
Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."
Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya.
oleh : Gus Mus (Rembang, Mei 2002)
"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya."
"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya."
"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."
"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."
"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak ada angina, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi."
"Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.
"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."
***
Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.
"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?"
"Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu;" kata Lik Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah."
"Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau."
Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.
Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan."
"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah."
"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau."
"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.
"Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."
"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk."
'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?'
'Kiai Tawakkal.'
'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'
"Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu."
"Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."
Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!"
"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka."
"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya."
"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang."
"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.
'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!' Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan".
"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk."
"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah."
'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."
"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.'
Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara.
'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?'
Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak'
Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.
'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."
"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.'
'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru.
'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.'
Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."
Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya.
oleh : Gus Mus (Rembang, Mei 2002)
Label:
Cerpen
Selasa, 26 Januari 2010
Poligami
Seperti biasanya setelah pengajian Selasanan, beberapa ‘aktivis’ jama’ah masih duduk-duduk berkumpul di aula. Malah kali ini nyaris lengkap. Ada kang Kimin; kang Zaini; haji Arifin; kang Slamet; kang Mansur; mas guru Manaf; si Dul; dan bahkan gus Mad dan mbah Paiman.
Kali ini kang Slamet yang membuka ‘diskusi’. “Wah, kasihan Aa’ Gym ya?! Mau itbaa’, mengikuti jejak Nabi, malah dihujat jama’ahnya.”
“Lebih kasihan lagi ibu-ibu yang selama ini mengidolakan Aa’ dan mereasa dikecewakan. Lebih-lebih Teteh Ninih, istrinya!” sahut haji Arifin yang isterinya ketua muslimat ranting. “Perempuan itu kan paling sakit jika dimadu.”
“Tapi Teteh Ninih itu kan sudah legowo, Aa’-nya kawin lagi;” kang Zaini menimpali. “Dia itu tipe perempuan yang taat dan selalu mendukung suaminya.”
“Legowo itu kan lahirnya saja!” sergah haji Arifin.
“Wah sejak kapan sampeyan jadi paranormal, tahu batin orang?” ledek kang Zaini.
“Lho, bukan begitu. Wajahnya di teve kan kelihatan!” jawab haji Arifin tak mau diledek sebagai paranormal.
“Tidak. Yang saya heran, mengapa kok jama’ahnya Aa’ menghujatnya dan orang-orang pada geger; sampai-sampai presiden segala ikut disibukkan. Ini ada apa?” si Dul nimbrung. “Bukankah sebelumnya sudah banyak tokoh yang kawin lebih dari satu; seperti petinggi PPP Hamzah Haz; mubalig sejuta umat Zainuddin MZ; aktifis gender Masdar Mas’udi; bahkan kiai Nur Muhammad Iskandar konon menjadi penasehat paguyuban Poligami yang dipimpin wong Solo itu.”
“Lain;” Gus Mad yang dari tadi seperti tidak mendengarkan, angkat bicara. “Pak Hamzah itu meskipun tokoh nasional, kan tokoh politik. Tokoh politik itu biasanya hanya dianggap milik partainya dan biasanya perilaku politiknya saja yang disorot. Zainuddin Mz dan Nur Iskandar juga begitu setelah terjun di politik. Sementara Masdar adalah pemikir yang ketokohannya tidak karena hubungan langsung dan intens dengan jama’ah.”
Gus Mad berhenti sejenak, memandangi wajah-wajah yang memperhatiannya; baru kemudian melanjutkan. “Aa’ Gym lain. Dia itu tokoh public figure sebenarnya. Dia tidak hanya mubalig, tapi juga sekaligus selebriti. Jama’ahnya adalah fans-fansnya. Aa’ adalah gabungan antara Zainuddin MZ dan Iwan Fals atau Tuti Alawiyah dan Krisdayanti. Lagi pula dia datang pada waktu yang tepat. Ibarat hujan, turun pada saat kemarau panjang. Pada saat kebanyakan kepala orang Indonesia panas oleh berbagai kesulitan dan kekecewaan, dia membawa keteduhan.”
Lagi-lagi Gus Mad berhenti sebentar, meneguk tehnya yang sudah dingin, kemudian baru melanjutkan. “Kalian tahu, kebanyakan jama’ah yang mengidolakan Aa’ adalah ibu-ibu. Mereka ini tidak hanya memuja Aa’ karena kelembutan dan kesejukan bicaranya, tapi antara lain juga keharmonisannya dengan sang isteri. Kalian lihat sendiri, dalam hampir setiap penampilannya, Aa’didampingi Teteh Ninih. Tidak jarang dalam orasinya, dia sengaja meminta dukungan isterinya itu.”
“Boleh jadi dalam pandangan jama’ahnya, khususnya ibu-ibu, Aa’ merupakan tokoh idola yang sempurna, yang tidak ada cacatnya. Ya, seperti umumnya fans terhadap tokoh idolanyalah. Bahkan untuk Aa’ ini mungkin lebih dari itu. Dalam bahasa Ainun, di mata mereka, Aa’ sudah menjadi semacam berhala. Terhadap ‘berhala’, pandangan ‘tidak ada cacat’ bisa menjadi ‘tidak boleh cacat’.”
“Dan umumnya orang Indonesia, terutama ibu-ibu, menganggap ‘kawin lagi; atau istilah populernya poligami, adalah cacat. Minimal mengurangi kesempurnaan tokoh suami. Maka ketika Aa’ kawin lagi, jama’ah selama ini menganggapnya idola tunggal yang tak bercatat pun kecewa berat dan meradang.”
“Tapi Gus,” sela kang Mansur, “poligami itu kan halal dan itbaa’ Nabi?”
Tiba-tiba jama’ah meledak, tertawa. Mas guru Manaf sambil tertawa, menuding kang Mansur. “Mentang-mentang isterinya dua!”
Kang Mansur terlihat agak sewot ditertawakan kawan-kawannya dan menyemprot mas guru Manaf: “Alaah, kamu sendiri sebetulnya kan pingin kawin lagi, tapi tak punya nyali. Dasar guru takwa. Takut isteri tua!”
Jama’ah pun semakin riuh tertawa. Setelah reda, mbah Paiman yang paling tua di antara jama’ah, tiba-tiba mengacungkan tangan dan bicara: “Begini; sebenarnya ini tidak masalah hukum. Hukumnya kan sudah jelas. Poligami boleh dengan syarat adil. Nah, yang jadi masalah kepercayaan terhadap adilnya suami inilah yang hampir tidak ada. Orang, apalagi zaman sekarang, apalagi perempuan, hampir tidak ada yang percaya ada suami yang bisa adil. Ditambah lagi maraknya kasus perselingkuhan membuat kepercayaan orang terhadap suami yang kawin lagi menjadi pupus.”
“Lho, kang Mansur ini alasannya kawin lagi justru agar tidak selingkuh, mbah;” sela mas guru Manaf. Kang Mansur melirik sengit ke arah mas guru Manaf.
“Ya, hampir semua mereka yang berpoligami selalu berkilah bahwa poligami jauh lebih baik daripada selingkuh. Ini halal dan selingkuh itu haram. Tapi ini sekaligus juga merupakan dalil penguat bagi mereka yang anti poligami untuk menuduh mereka yang berpoligami. Artinya, mereka ini melihat dorongan untuk selingkuh dan kawin lagi adalah sama. Syahwat.”
“Lho, bukankah agama memang memberi jalan, agar orang tidak terjerumus ke dalam kemungkaran, mbah?” tanya kang Zaini, “Agar tidak terjerumus dalam riba, agama memberi jalan: jual-beli. Agar tidak terjerumus dalam zina, agama memberi jalan: kawin.”
“Ya, benar;” jawab mbah Paiman sareh, “tapi yang membuat orang, terutama perempuan, semakin tidak percaya itu ialah alasan-alasan mulia yang sering dikemukakan mereka yang berpoligami, seperti untuk mengikuti jejak Nabi; memberantas perselingkuhan; dsb.”
“Lalu fatwa mbah kepada kita-kita ini, terutama kepada mas guru Manaf yang kata kang Mansur sudah ngebet pingin kawin lagi ini, bagaimana?” tanya haji Arifin.
“Istafti qalbak! Mintalah fatwa nuranimu sendiri!” jawab mbah Paiman menirukan sabda Nabi Muhammad SAW.
Suasana menjadi hening agak lama. Kemudian yang memecahkan kesunyian adalah kang Kimin ‘senior’ jama’ah yang dari tadi diam saja. “Dari tadi kita kok hanya geger bicara soal orang kawin lagi. Yang kasihan kepada Aa’lah, yang kasihan kepada isternyalah, yang kasihan kepada ibu-ibu yang mengidolakannyalah. Bukankah di negeri ini masih banyak yang lebih perlu dikasihani; misalnya para korban bencana alam yang belum benar-benar terurus; korban Lapindo yang berlarut-larut hanya dijadikan bahan diskusi; para pemimpin yang bebal terhadap kehendak umat yang dipimpinnya; para pejabat yang masih kerepotan melepaskan diri dari lilitan kepentingan materi; dan sebagainya dan seterusnya.”
Suasana kembali sunyi; sampai gus Mad memecahkannya dengan berkata: “Marilah kita tutup perbincangan kita ini dengan membaca Al-Fatihah, semoga Allah mengasihani dan merahmati kita bangsa Indonesia ini, terutama mereka yang kita kasihani. Al-Faaatihah!”
Oleh: A. Mustofa Bisri
Kali ini kang Slamet yang membuka ‘diskusi’. “Wah, kasihan Aa’ Gym ya?! Mau itbaa’, mengikuti jejak Nabi, malah dihujat jama’ahnya.”
“Lebih kasihan lagi ibu-ibu yang selama ini mengidolakan Aa’ dan mereasa dikecewakan. Lebih-lebih Teteh Ninih, istrinya!” sahut haji Arifin yang isterinya ketua muslimat ranting. “Perempuan itu kan paling sakit jika dimadu.”
“Tapi Teteh Ninih itu kan sudah legowo, Aa’-nya kawin lagi;” kang Zaini menimpali. “Dia itu tipe perempuan yang taat dan selalu mendukung suaminya.”
“Legowo itu kan lahirnya saja!” sergah haji Arifin.
“Wah sejak kapan sampeyan jadi paranormal, tahu batin orang?” ledek kang Zaini.
“Lho, bukan begitu. Wajahnya di teve kan kelihatan!” jawab haji Arifin tak mau diledek sebagai paranormal.
“Tidak. Yang saya heran, mengapa kok jama’ahnya Aa’ menghujatnya dan orang-orang pada geger; sampai-sampai presiden segala ikut disibukkan. Ini ada apa?” si Dul nimbrung. “Bukankah sebelumnya sudah banyak tokoh yang kawin lebih dari satu; seperti petinggi PPP Hamzah Haz; mubalig sejuta umat Zainuddin MZ; aktifis gender Masdar Mas’udi; bahkan kiai Nur Muhammad Iskandar konon menjadi penasehat paguyuban Poligami yang dipimpin wong Solo itu.”
“Lain;” Gus Mad yang dari tadi seperti tidak mendengarkan, angkat bicara. “Pak Hamzah itu meskipun tokoh nasional, kan tokoh politik. Tokoh politik itu biasanya hanya dianggap milik partainya dan biasanya perilaku politiknya saja yang disorot. Zainuddin Mz dan Nur Iskandar juga begitu setelah terjun di politik. Sementara Masdar adalah pemikir yang ketokohannya tidak karena hubungan langsung dan intens dengan jama’ah.”
Gus Mad berhenti sejenak, memandangi wajah-wajah yang memperhatiannya; baru kemudian melanjutkan. “Aa’ Gym lain. Dia itu tokoh public figure sebenarnya. Dia tidak hanya mubalig, tapi juga sekaligus selebriti. Jama’ahnya adalah fans-fansnya. Aa’ adalah gabungan antara Zainuddin MZ dan Iwan Fals atau Tuti Alawiyah dan Krisdayanti. Lagi pula dia datang pada waktu yang tepat. Ibarat hujan, turun pada saat kemarau panjang. Pada saat kebanyakan kepala orang Indonesia panas oleh berbagai kesulitan dan kekecewaan, dia membawa keteduhan.”
Lagi-lagi Gus Mad berhenti sebentar, meneguk tehnya yang sudah dingin, kemudian baru melanjutkan. “Kalian tahu, kebanyakan jama’ah yang mengidolakan Aa’ adalah ibu-ibu. Mereka ini tidak hanya memuja Aa’ karena kelembutan dan kesejukan bicaranya, tapi antara lain juga keharmonisannya dengan sang isteri. Kalian lihat sendiri, dalam hampir setiap penampilannya, Aa’didampingi Teteh Ninih. Tidak jarang dalam orasinya, dia sengaja meminta dukungan isterinya itu.”
“Boleh jadi dalam pandangan jama’ahnya, khususnya ibu-ibu, Aa’ merupakan tokoh idola yang sempurna, yang tidak ada cacatnya. Ya, seperti umumnya fans terhadap tokoh idolanyalah. Bahkan untuk Aa’ ini mungkin lebih dari itu. Dalam bahasa Ainun, di mata mereka, Aa’ sudah menjadi semacam berhala. Terhadap ‘berhala’, pandangan ‘tidak ada cacat’ bisa menjadi ‘tidak boleh cacat’.”
“Dan umumnya orang Indonesia, terutama ibu-ibu, menganggap ‘kawin lagi; atau istilah populernya poligami, adalah cacat. Minimal mengurangi kesempurnaan tokoh suami. Maka ketika Aa’ kawin lagi, jama’ah selama ini menganggapnya idola tunggal yang tak bercatat pun kecewa berat dan meradang.”
“Tapi Gus,” sela kang Mansur, “poligami itu kan halal dan itbaa’ Nabi?”
Tiba-tiba jama’ah meledak, tertawa. Mas guru Manaf sambil tertawa, menuding kang Mansur. “Mentang-mentang isterinya dua!”
Kang Mansur terlihat agak sewot ditertawakan kawan-kawannya dan menyemprot mas guru Manaf: “Alaah, kamu sendiri sebetulnya kan pingin kawin lagi, tapi tak punya nyali. Dasar guru takwa. Takut isteri tua!”
Jama’ah pun semakin riuh tertawa. Setelah reda, mbah Paiman yang paling tua di antara jama’ah, tiba-tiba mengacungkan tangan dan bicara: “Begini; sebenarnya ini tidak masalah hukum. Hukumnya kan sudah jelas. Poligami boleh dengan syarat adil. Nah, yang jadi masalah kepercayaan terhadap adilnya suami inilah yang hampir tidak ada. Orang, apalagi zaman sekarang, apalagi perempuan, hampir tidak ada yang percaya ada suami yang bisa adil. Ditambah lagi maraknya kasus perselingkuhan membuat kepercayaan orang terhadap suami yang kawin lagi menjadi pupus.”
“Lho, kang Mansur ini alasannya kawin lagi justru agar tidak selingkuh, mbah;” sela mas guru Manaf. Kang Mansur melirik sengit ke arah mas guru Manaf.
“Ya, hampir semua mereka yang berpoligami selalu berkilah bahwa poligami jauh lebih baik daripada selingkuh. Ini halal dan selingkuh itu haram. Tapi ini sekaligus juga merupakan dalil penguat bagi mereka yang anti poligami untuk menuduh mereka yang berpoligami. Artinya, mereka ini melihat dorongan untuk selingkuh dan kawin lagi adalah sama. Syahwat.”
“Lho, bukankah agama memang memberi jalan, agar orang tidak terjerumus ke dalam kemungkaran, mbah?” tanya kang Zaini, “Agar tidak terjerumus dalam riba, agama memberi jalan: jual-beli. Agar tidak terjerumus dalam zina, agama memberi jalan: kawin.”
“Ya, benar;” jawab mbah Paiman sareh, “tapi yang membuat orang, terutama perempuan, semakin tidak percaya itu ialah alasan-alasan mulia yang sering dikemukakan mereka yang berpoligami, seperti untuk mengikuti jejak Nabi; memberantas perselingkuhan; dsb.”
“Lalu fatwa mbah kepada kita-kita ini, terutama kepada mas guru Manaf yang kata kang Mansur sudah ngebet pingin kawin lagi ini, bagaimana?” tanya haji Arifin.
“Istafti qalbak! Mintalah fatwa nuranimu sendiri!” jawab mbah Paiman menirukan sabda Nabi Muhammad SAW.
Suasana menjadi hening agak lama. Kemudian yang memecahkan kesunyian adalah kang Kimin ‘senior’ jama’ah yang dari tadi diam saja. “Dari tadi kita kok hanya geger bicara soal orang kawin lagi. Yang kasihan kepada Aa’lah, yang kasihan kepada isternyalah, yang kasihan kepada ibu-ibu yang mengidolakannyalah. Bukankah di negeri ini masih banyak yang lebih perlu dikasihani; misalnya para korban bencana alam yang belum benar-benar terurus; korban Lapindo yang berlarut-larut hanya dijadikan bahan diskusi; para pemimpin yang bebal terhadap kehendak umat yang dipimpinnya; para pejabat yang masih kerepotan melepaskan diri dari lilitan kepentingan materi; dan sebagainya dan seterusnya.”
Suasana kembali sunyi; sampai gus Mad memecahkannya dengan berkata: “Marilah kita tutup perbincangan kita ini dengan membaca Al-Fatihah, semoga Allah mengasihani dan merahmati kita bangsa Indonesia ini, terutama mereka yang kita kasihani. Al-Faaatihah!”
Oleh: A. Mustofa Bisri
Label:
Cerpen
Kamis, 21 Januari 2010
LELAKI KE-1000 DI RANJANGKU
Lelaki pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiiri dan lelaki yang mencampakkan ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini maka lelaki kedua hanyalah saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus….
Kututup pintu kamarku keras-keras, kukunci dan, “Pergi kau lelaki! Cuci mulut dan tubuhmu baik-baik sebab istrimu di rumah cukup dungu untuk kau kelabui.”
Bayangkan lelaki itu masih bisa berkata, “Kau jangan murung dan menderita, Yesus dulu disalib untuk sesuatu yang lebih bernilai bagi ummat manusia….”
“Aku tak punya Yesus! Aku pintar ngaji!” aku memotong.
Ia tersenyum , dan memandangku mirip dengan mripat burung hantu. “Kau putus asa Nia….”
“Aku memang putus asa. Bukan kau. Jadi pergilah!”
“Kau bukan perempuan yang tepat untuk berputus asa. Percayalah bahwa kehidupan ini sangat kaya. Dan aku ini laki-laki. Laki-laki sejati hanya mengucapkan kata-kata yang memang pantas dan ia yakini untuk diucapkan. Keinginanku untuk mengambilmu dari neraka ini dan mengawinimu….”
“Cukup Ron! Jangan ucapkan apa-apa dan pergi!”
“Nia!…..”
Kudorong ia keluar. Pintu kututup.
Jangan ganggu. Kini aku mau tidur. Sama sekali tidur. Jangan ada mimpi dan jangan ada apapun juga. Semua buruk dan durhaka.
Kuhempaskan tubuhku yang gembur, tenagaku yang terbengkelai dan jiwaku yang arang keranjang.
Tengah malam sudah lewat. Kulemparkan handuk kecil basah ke kamar mandi mini di pojok. Di luar, musik sudah surut. Tinggal geremang suara lelaki, sesekali teriakan mabuk. Tapi Simon lulusan Nusakambangan itu pasti bisa membereskan segala kemungkinan.
Kupasrahkan segala kesendirianku di kasur. Tubuhku tergolek dan semuanya lemas. Kuhembuskan nafas panjang. Tak cukup panjang. Dadaku selalu sesak. Sahabatku dinding, atap, almari, kalender porno, handuk-handuk—sebenarnya ini semua kehidupan macam apa? Seorang perempuan, dari hari ke hari, harus mengangkang…..
Kumatikan lampu, “Sudahlah! Aku mau tidur. Sebenar-benarnya tidur. “Tuhan, kenapa jarang ada tidur yang tanpa bangun kembali? Alangkah gampangnya ini bagiku. Namun baiklah. Asal sekarang ini jangan ada yang menggangguku. Kalau ada yang mengetuk pintu, akan kuteriaki. Kalau ia mengetuk lagi, teriakanku akan lebih keras. Kalau ia ulang lagi, akan kubuka pintu sedikit dan kuludahi mukanya. Dan kalau ia masih mencoba merayu juga, akan kubunuh.
Datanglah besok, pada jam kerja, semaumu. Nikmati tubuh dan senyumanku, kapan saja kau bernafsu. Tapi jangan ganggu saat sendiriku. Sebab tak bisa lagi aku tersenyum. Aku tak boleh tersenyum untuk diriku sendiri. Aku bisa kehabisan, sebab ratusan bahkan ribuan lelaki sudah menunggu untuk membeli dan karena itu mereka merasa berhak sepenuhnya untuk memiliki keramahanku
Padahal aku sesungguhnya tak punya keramahan lagi. Coba, siapa yang lebih bijak dari pelacur? Tersenyum terus menerus kepada setiap lelaki, meladeninya seperti seorang permaisuri yang terbaik atau setidaknya seorang istri teladan, melakukan segala kemauannya tanpa boleh menolaknya kecuali aku kehilangan kemungkinan di hari-hari berikutnnya. Aku harus ramah, supel, senyum, dalam keadaan apapun. Jadi hitunglah berapa kekuatan jiwa yang kubutuhkan untuk melakukan itu tanpa ada hentinya. Sedang Pak Kyai di desaku sudah sukar tersenyum. Meladeni sekian ratus atau sekian ribu orang tiap hari, dan ia menjadi patung yang mengulurkan tangannya. Tetapi ia dipercaya seperti Tuhan, dan aku, hanya tergantung pada dagingku.
Ah, kenapa mengeluh! Pelacur yang baik tak pernah mengeluh. Sekarang, “Tidur, tidur…”
Apa lagi? Aku sudah hampir menyelesaikan salah satu kesempurnaan hidupku di muka bumi ini. Kini aku telah sampai pada lelaki ke-993. Bukan rekor yang cukup hebat, tapi ini ambang pintu kesempurnaan tersendiri bagiku. Tiga belas bulan sudah aku menekuni karierku ini, dengan berusaha sebaik-baiknya memenuhi segala aturan dan sopan santunnya. Terhadap hampir semua lelaki, moral dan solidaritasku tinggi. Karena itu, sebagai primadona salah satu wisma “Pasar Daging” ini, rata-rata aku menerima 8 lelaki. Dalam sebulan, kira-kira libur seminggu. Dan selama ini aku ambil cuti hampir dua bulan. Cobalah hitung sendiri. Rekorku pasi lebih tinggi kalau saja tidak cukup banyak lelaki yang mengulangi hasratnya atasku beberapa kali…..
Dan besok, kukira aku akan berpesta diam-diam dalam diriku, buat lelakiku yang keseribu. Tak tahu bagaimana, ini semua tidak ada yang baik bagiku, tetapi ada hal yang menarik. Apa yang bisa menghiburku di dunia ini? Delapan lelaki setiap hari adalah hiburan yang berlebihan sehingga kehilangan daya hiburnya dan berubah menjadi kebosanan, kejenuhan dan rasa perih lahir batin. Minum? Sudah tak terhitung lagi, jiwaku sudah kebal. Nonton? Tamasya? Main kartu? Semua sudah hampa. Jangan pula sebut tentang kata-kata manis dari mulut lelaki!
Aku sudah mengecap segala yang manis dari laki-laki. Tetapi manis hanyalah manis dan kenyataan hidup adalah bau yang lain lagi. Suamiku dulu kurang apa? Anak muda yang manis, pengusaha swasta yang berhasil, caranya berjalan seperti pendekar dan mulutnya seperti pujangga. Segala mimpi dan bayangan tentang hari depan ada dalam genggamannya. Namun alasan terkuat sehingga aku menjadi istrinya adalah karena aku mencintainya, tanpa aku pernah mencintai lelaki manapun sebelumnya. Apa yang kurang? Orang tuaku melarang kehendakku karena mempertimbangkan latar belakang lelakiku: perbedaan agama, lingkungan pergaulannya, serta kata Ibu, ‘Cahaya matanya.”
Akan tetapi kata orang, “Ini zaman perubahan, anak dan orang tua tak akan bisa dipertemukan. Maka akhirnya kutempuh riwayat paling buruk dengan orang tuaku. Kami lari. Aku berbahagia sebentar, sampai akhirnya perlahan-lahan tiba saat kehidupan ini menujukkan kuku-kukunya yang asli. Suamiku nafasnya pendek. Keramahannya terhadapku singkat umurnya dan makin surut. Dan, sederhana saja, belakangan kuyakini bahwa ia mulai bermain perempuan lagi, dan ia nampak bergembira karena itu.
Teranglah sudah. Tak bisa kukuasai lukaku, tak bisa kurumuskan semua itu dengan pikiranku, dan untuk kembali ke orang tua aku amat sangat merasa dosa dan malu. Dan, untuk terperosok ke karierku yang baru ini, adalah kejadian yang sepele orang beli rokok, meskipun untuk itu aku kemudian hijrah ke kota yang jauh dari daerah kelahiranku. Soal surat-menyurat resmi? Sangat gampang dibereskan. Dan orang tuaku bukan keluarga yang cukup. Dengan kukirimi uang rutin, mulut mereka terkatup, meskipun ingatan tentang mereka merupakan siksaan sendiri bagiku. Janganlah persoalkan hal-hal sepele seperti itu. Bahkan di sini banyak kawan-kawanku yang memang sengaja dijual oleh suaminya, serta banyak contoh lain di antara puluhan ribu sahabat-sahabatku di kota ini.
“Kenapa kau bisa sampai di sini, Nia ?” banyak sekali lelaki menanyakan seperti itu. Dan jawabanku sudah “kufotocopy” ratusan lembar. Sebab aku tahu tak ada pertanyaan lelaki yang mendalam. Mereka hanya “mesin” dari nafsunya, dan untuk hal-hal yang berbau cinta, kulayani mereka cukup dengan “kertas-kertas loakan” Cinta itu tidak ada. Karena itu terlalu banyak dibicarakan.
“Kau pantas jadi bintang film!”. Ratusan lelaki memujiku. Dan mendengar itu selalu aku ingin berak.
“Mau jadi istriku?” rayunya.
“Kau yang jadi istriku, aku suamimu!” jawabku.
“Aku tidak mengerti…”
“Lelaki tak pernah mengerti!”
“Tidak semua, Nia”
‘Ya, Tidak semua. Jika lelaki ialah perempuan, maka bisa mengerti.”
“Aduh. Perempuan selalu membingungkan….”
“Lelaki selalu membunuh perlahan-lahan!”
Kalau sudah begitu mereka biasanya lantas putus asa dan cepat-cepat saja menggulatiku seperti monyet makan mangga. Tak ada bedanya. Semua yang mendatangiku adalah monyet-monyet. Biar ia sopir, pelaut, guru, pengusaha, mahasiswa, seniman, gali, penjudi, dosen, makelar, peternak, tuan tanah, pelayan, lurah, camat, jagal, pegawai, bandar, germo, botoh maupun bupati. Beberapa di antara mereka yang putus asa hidupnya, agak sedikit lebih baik. Yang lainnya menumpahkan segala dosa dan kehinaan di wajahku.
Jadi, buat apa kupikirkan monyet-monyet?
Sekarang, “Tidur, tidur….”
Tidur lebih baik dari segala sesuatu. Kalau saja ada tidur yang terbebas dari kenyang dan lapar. Kalau saja ada kamar, sekecil apapun, yang memberiku tidur yang sekekal-kekalnya….
Aku tersentak tiba-tiba oleh suara adzan yang keras. Mesjid hanya seratus meter dari tempatku ini. Jadi ini sudah pagi? Dan aku belum tidur sekejappun. Kuraih pil tidur di meja dan kutelan. Suara adzan terus mengalun dan mengejekku. Dalam warna-warni yang malang melintang di mataku, akhirnya aku lenyap ke dalam mimpi buruk. Mimpi seburuk-buruknya, yang bahkan tak pernah dialami oleh setan maupun malaikat.
Tapi tak lama. Setidaknya begitu kurasakan. Dalam remang sakit batinku terdengar ketukan di pintu, “Nia! Nia! Bangun! Ada tamu!”Aku tergeragap dan meloncat dari ranjang. Iti suara Om Jiman, germo bossku, lelaki yang beruntung di dunia, tuan tanah yang kaya raya dan berkuasa penuh atas sawah-sawahnya, yang menyediakan sawah-sawah itu untuk disingkal, disingkal, disingkal, kapan saja ia mau.
Kubuka pintu dan tersenyum. Lihat, aku tersenyum—inilah kemampuan dahsyat yang membuatku laris. Kulirik jam: 8.35 WIB .Gusti Allah, siapa gerangan lelaki yang di pagi buta begini sudah hendak beli sarapan? Kupandang tamuku itu: lelaki setengah tua gendut rapih dan berwajah pemabuk. Tak ada yang menarik. Tapi kuladeni juga seperti Ken Dedes meladeni Ken Arok. Masih sangat ngantuk dan tidur masih kuat menjadi bagian dari diriku. Tapi kuladeni. Juga lelaki berikutnya dan berikutnya lagi. Mas mas yang budiman, kenapa tak berbagi hasrat kepada sahabat-sahabatku di kamar lain, sesekali, meskipun sebagai sawah mereka kurang indah, kurang liat dan kenyal? Aku sesungguhnya bukanlah perampas ekonomi mereka.
Namun hari ini, memang “Hari Besar “ bagiku . Di sore hari, dalam tubuh dan jiwa lungkrahku, sampailah aku di pelukan lelaki ke-1000 di ranjangku. Anak muda yang menarik, pakai jean dan bawa tustel. Kelihatannya ini pegawai surat kabar.
“Mau memfoto aku bugil kan?” kucoba melangkahi maksudnya.
Ia menggeleng dan tersaenyum, “Kau tak menghendaki itu kan?”
Aku hampir menunduk. Tapi kutahankan. Tapi segala sikap dan perkataannya kepadaku sungguh lain. Aku agak gugup. Dan ini yang penting: ia tak menyetubuhiku! Aku makin gugup….
Demikianlah, kami hanya bersetubuh batin. Begitu singkat, tapi segala yang kupertahankan dibatinku ambrol. Tak tahu apa yang terjadi, tapi malam itu aku nangis….ini mimpi yang lain sama sekali. Tak tahu apa.
Ternyata karierku menajak. Dan inilah yang sebenarnya ingin kukemukakan kepadamu. Dua hari kemudian Oom Jiman pagi-pagi menyodorkan padaku sebuah Koran. Di halaman pertama pojok bawah, terpancang fotoku serta segala cerita tentang diriku: korban lelaki binal, kini meladeni 8 orang tiap hari……
Dan sebelum sempat kuselesaikan membacanya, datang dua lelaki membawa Koran yang sama. Memandangku dengan aneh, satunya tersenyum. Kemudian datang lagi dan lagi, lelaki dengan Koran di tangannya. Tingkah lakunya macam-macam, pendekatannya kepadaku beraneka ragam . Mereka antri di depan pintu. Kawan-kawanku sibuk menggunjingkanku. Ada yang senang, nelangsa, marah. Bagaimanapun aku yang memang cantik ini memang saingan mereka. Si Minah merampas koran dari salah seorang lelaki dan merobek-robeknya, kemudian menangis sekeras-kerasnya. Aku bingung, “Ayo, berapa lelaki merangkak diranjangku dalam sehari? Sepuluh? Dua belas ? lima belas?Atau lima orang sekaligus mau jadi babi mabuk di seputar tubuhku?” semoga aku mati sebelum hancur sama sekali. Semoga ada yang menulari Herpes ke tubuhku supaya kusebarkan ke seluruh lelaki yang datang dan meluas ke seantero kota dan seluruh negeri. Aku toh bisa menikamkan pisau ke perutku sewaktu-waktu…..
oleh : Emha Ainun Najib
Kututup pintu kamarku keras-keras, kukunci dan, “Pergi kau lelaki! Cuci mulut dan tubuhmu baik-baik sebab istrimu di rumah cukup dungu untuk kau kelabui.”
Bayangkan lelaki itu masih bisa berkata, “Kau jangan murung dan menderita, Yesus dulu disalib untuk sesuatu yang lebih bernilai bagi ummat manusia….”
“Aku tak punya Yesus! Aku pintar ngaji!” aku memotong.
Ia tersenyum , dan memandangku mirip dengan mripat burung hantu. “Kau putus asa Nia….”
“Aku memang putus asa. Bukan kau. Jadi pergilah!”
“Kau bukan perempuan yang tepat untuk berputus asa. Percayalah bahwa kehidupan ini sangat kaya. Dan aku ini laki-laki. Laki-laki sejati hanya mengucapkan kata-kata yang memang pantas dan ia yakini untuk diucapkan. Keinginanku untuk mengambilmu dari neraka ini dan mengawinimu….”
“Cukup Ron! Jangan ucapkan apa-apa dan pergi!”
“Nia!…..”
Kudorong ia keluar. Pintu kututup.
Jangan ganggu. Kini aku mau tidur. Sama sekali tidur. Jangan ada mimpi dan jangan ada apapun juga. Semua buruk dan durhaka.
Kuhempaskan tubuhku yang gembur, tenagaku yang terbengkelai dan jiwaku yang arang keranjang.
Tengah malam sudah lewat. Kulemparkan handuk kecil basah ke kamar mandi mini di pojok. Di luar, musik sudah surut. Tinggal geremang suara lelaki, sesekali teriakan mabuk. Tapi Simon lulusan Nusakambangan itu pasti bisa membereskan segala kemungkinan.
Kupasrahkan segala kesendirianku di kasur. Tubuhku tergolek dan semuanya lemas. Kuhembuskan nafas panjang. Tak cukup panjang. Dadaku selalu sesak. Sahabatku dinding, atap, almari, kalender porno, handuk-handuk—sebenarnya ini semua kehidupan macam apa? Seorang perempuan, dari hari ke hari, harus mengangkang…..
Kumatikan lampu, “Sudahlah! Aku mau tidur. Sebenar-benarnya tidur. “Tuhan, kenapa jarang ada tidur yang tanpa bangun kembali? Alangkah gampangnya ini bagiku. Namun baiklah. Asal sekarang ini jangan ada yang menggangguku. Kalau ada yang mengetuk pintu, akan kuteriaki. Kalau ia mengetuk lagi, teriakanku akan lebih keras. Kalau ia ulang lagi, akan kubuka pintu sedikit dan kuludahi mukanya. Dan kalau ia masih mencoba merayu juga, akan kubunuh.
Datanglah besok, pada jam kerja, semaumu. Nikmati tubuh dan senyumanku, kapan saja kau bernafsu. Tapi jangan ganggu saat sendiriku. Sebab tak bisa lagi aku tersenyum. Aku tak boleh tersenyum untuk diriku sendiri. Aku bisa kehabisan, sebab ratusan bahkan ribuan lelaki sudah menunggu untuk membeli dan karena itu mereka merasa berhak sepenuhnya untuk memiliki keramahanku
Padahal aku sesungguhnya tak punya keramahan lagi. Coba, siapa yang lebih bijak dari pelacur? Tersenyum terus menerus kepada setiap lelaki, meladeninya seperti seorang permaisuri yang terbaik atau setidaknya seorang istri teladan, melakukan segala kemauannya tanpa boleh menolaknya kecuali aku kehilangan kemungkinan di hari-hari berikutnnya. Aku harus ramah, supel, senyum, dalam keadaan apapun. Jadi hitunglah berapa kekuatan jiwa yang kubutuhkan untuk melakukan itu tanpa ada hentinya. Sedang Pak Kyai di desaku sudah sukar tersenyum. Meladeni sekian ratus atau sekian ribu orang tiap hari, dan ia menjadi patung yang mengulurkan tangannya. Tetapi ia dipercaya seperti Tuhan, dan aku, hanya tergantung pada dagingku.
Ah, kenapa mengeluh! Pelacur yang baik tak pernah mengeluh. Sekarang, “Tidur, tidur…”
Apa lagi? Aku sudah hampir menyelesaikan salah satu kesempurnaan hidupku di muka bumi ini. Kini aku telah sampai pada lelaki ke-993. Bukan rekor yang cukup hebat, tapi ini ambang pintu kesempurnaan tersendiri bagiku. Tiga belas bulan sudah aku menekuni karierku ini, dengan berusaha sebaik-baiknya memenuhi segala aturan dan sopan santunnya. Terhadap hampir semua lelaki, moral dan solidaritasku tinggi. Karena itu, sebagai primadona salah satu wisma “Pasar Daging” ini, rata-rata aku menerima 8 lelaki. Dalam sebulan, kira-kira libur seminggu. Dan selama ini aku ambil cuti hampir dua bulan. Cobalah hitung sendiri. Rekorku pasi lebih tinggi kalau saja tidak cukup banyak lelaki yang mengulangi hasratnya atasku beberapa kali…..
Dan besok, kukira aku akan berpesta diam-diam dalam diriku, buat lelakiku yang keseribu. Tak tahu bagaimana, ini semua tidak ada yang baik bagiku, tetapi ada hal yang menarik. Apa yang bisa menghiburku di dunia ini? Delapan lelaki setiap hari adalah hiburan yang berlebihan sehingga kehilangan daya hiburnya dan berubah menjadi kebosanan, kejenuhan dan rasa perih lahir batin. Minum? Sudah tak terhitung lagi, jiwaku sudah kebal. Nonton? Tamasya? Main kartu? Semua sudah hampa. Jangan pula sebut tentang kata-kata manis dari mulut lelaki!
Aku sudah mengecap segala yang manis dari laki-laki. Tetapi manis hanyalah manis dan kenyataan hidup adalah bau yang lain lagi. Suamiku dulu kurang apa? Anak muda yang manis, pengusaha swasta yang berhasil, caranya berjalan seperti pendekar dan mulutnya seperti pujangga. Segala mimpi dan bayangan tentang hari depan ada dalam genggamannya. Namun alasan terkuat sehingga aku menjadi istrinya adalah karena aku mencintainya, tanpa aku pernah mencintai lelaki manapun sebelumnya. Apa yang kurang? Orang tuaku melarang kehendakku karena mempertimbangkan latar belakang lelakiku: perbedaan agama, lingkungan pergaulannya, serta kata Ibu, ‘Cahaya matanya.”
Akan tetapi kata orang, “Ini zaman perubahan, anak dan orang tua tak akan bisa dipertemukan. Maka akhirnya kutempuh riwayat paling buruk dengan orang tuaku. Kami lari. Aku berbahagia sebentar, sampai akhirnya perlahan-lahan tiba saat kehidupan ini menujukkan kuku-kukunya yang asli. Suamiku nafasnya pendek. Keramahannya terhadapku singkat umurnya dan makin surut. Dan, sederhana saja, belakangan kuyakini bahwa ia mulai bermain perempuan lagi, dan ia nampak bergembira karena itu.
Teranglah sudah. Tak bisa kukuasai lukaku, tak bisa kurumuskan semua itu dengan pikiranku, dan untuk kembali ke orang tua aku amat sangat merasa dosa dan malu. Dan, untuk terperosok ke karierku yang baru ini, adalah kejadian yang sepele orang beli rokok, meskipun untuk itu aku kemudian hijrah ke kota yang jauh dari daerah kelahiranku. Soal surat-menyurat resmi? Sangat gampang dibereskan. Dan orang tuaku bukan keluarga yang cukup. Dengan kukirimi uang rutin, mulut mereka terkatup, meskipun ingatan tentang mereka merupakan siksaan sendiri bagiku. Janganlah persoalkan hal-hal sepele seperti itu. Bahkan di sini banyak kawan-kawanku yang memang sengaja dijual oleh suaminya, serta banyak contoh lain di antara puluhan ribu sahabat-sahabatku di kota ini.
“Kenapa kau bisa sampai di sini, Nia ?” banyak sekali lelaki menanyakan seperti itu. Dan jawabanku sudah “kufotocopy” ratusan lembar. Sebab aku tahu tak ada pertanyaan lelaki yang mendalam. Mereka hanya “mesin” dari nafsunya, dan untuk hal-hal yang berbau cinta, kulayani mereka cukup dengan “kertas-kertas loakan” Cinta itu tidak ada. Karena itu terlalu banyak dibicarakan.
“Kau pantas jadi bintang film!”. Ratusan lelaki memujiku. Dan mendengar itu selalu aku ingin berak.
“Mau jadi istriku?” rayunya.
“Kau yang jadi istriku, aku suamimu!” jawabku.
“Aku tidak mengerti…”
“Lelaki tak pernah mengerti!”
“Tidak semua, Nia”
‘Ya, Tidak semua. Jika lelaki ialah perempuan, maka bisa mengerti.”
“Aduh. Perempuan selalu membingungkan….”
“Lelaki selalu membunuh perlahan-lahan!”
Kalau sudah begitu mereka biasanya lantas putus asa dan cepat-cepat saja menggulatiku seperti monyet makan mangga. Tak ada bedanya. Semua yang mendatangiku adalah monyet-monyet. Biar ia sopir, pelaut, guru, pengusaha, mahasiswa, seniman, gali, penjudi, dosen, makelar, peternak, tuan tanah, pelayan, lurah, camat, jagal, pegawai, bandar, germo, botoh maupun bupati. Beberapa di antara mereka yang putus asa hidupnya, agak sedikit lebih baik. Yang lainnya menumpahkan segala dosa dan kehinaan di wajahku.
Jadi, buat apa kupikirkan monyet-monyet?
Sekarang, “Tidur, tidur….”
Tidur lebih baik dari segala sesuatu. Kalau saja ada tidur yang terbebas dari kenyang dan lapar. Kalau saja ada kamar, sekecil apapun, yang memberiku tidur yang sekekal-kekalnya….
Aku tersentak tiba-tiba oleh suara adzan yang keras. Mesjid hanya seratus meter dari tempatku ini. Jadi ini sudah pagi? Dan aku belum tidur sekejappun. Kuraih pil tidur di meja dan kutelan. Suara adzan terus mengalun dan mengejekku. Dalam warna-warni yang malang melintang di mataku, akhirnya aku lenyap ke dalam mimpi buruk. Mimpi seburuk-buruknya, yang bahkan tak pernah dialami oleh setan maupun malaikat.
Tapi tak lama. Setidaknya begitu kurasakan. Dalam remang sakit batinku terdengar ketukan di pintu, “Nia! Nia! Bangun! Ada tamu!”Aku tergeragap dan meloncat dari ranjang. Iti suara Om Jiman, germo bossku, lelaki yang beruntung di dunia, tuan tanah yang kaya raya dan berkuasa penuh atas sawah-sawahnya, yang menyediakan sawah-sawah itu untuk disingkal, disingkal, disingkal, kapan saja ia mau.
Kubuka pintu dan tersenyum. Lihat, aku tersenyum—inilah kemampuan dahsyat yang membuatku laris. Kulirik jam: 8.35 WIB .Gusti Allah, siapa gerangan lelaki yang di pagi buta begini sudah hendak beli sarapan? Kupandang tamuku itu: lelaki setengah tua gendut rapih dan berwajah pemabuk. Tak ada yang menarik. Tapi kuladeni juga seperti Ken Dedes meladeni Ken Arok. Masih sangat ngantuk dan tidur masih kuat menjadi bagian dari diriku. Tapi kuladeni. Juga lelaki berikutnya dan berikutnya lagi. Mas mas yang budiman, kenapa tak berbagi hasrat kepada sahabat-sahabatku di kamar lain, sesekali, meskipun sebagai sawah mereka kurang indah, kurang liat dan kenyal? Aku sesungguhnya bukanlah perampas ekonomi mereka.
Namun hari ini, memang “Hari Besar “ bagiku . Di sore hari, dalam tubuh dan jiwa lungkrahku, sampailah aku di pelukan lelaki ke-1000 di ranjangku. Anak muda yang menarik, pakai jean dan bawa tustel. Kelihatannya ini pegawai surat kabar.
“Mau memfoto aku bugil kan?” kucoba melangkahi maksudnya.
Ia menggeleng dan tersaenyum, “Kau tak menghendaki itu kan?”
Aku hampir menunduk. Tapi kutahankan. Tapi segala sikap dan perkataannya kepadaku sungguh lain. Aku agak gugup. Dan ini yang penting: ia tak menyetubuhiku! Aku makin gugup….
Demikianlah, kami hanya bersetubuh batin. Begitu singkat, tapi segala yang kupertahankan dibatinku ambrol. Tak tahu apa yang terjadi, tapi malam itu aku nangis….ini mimpi yang lain sama sekali. Tak tahu apa.
Ternyata karierku menajak. Dan inilah yang sebenarnya ingin kukemukakan kepadamu. Dua hari kemudian Oom Jiman pagi-pagi menyodorkan padaku sebuah Koran. Di halaman pertama pojok bawah, terpancang fotoku serta segala cerita tentang diriku: korban lelaki binal, kini meladeni 8 orang tiap hari……
Dan sebelum sempat kuselesaikan membacanya, datang dua lelaki membawa Koran yang sama. Memandangku dengan aneh, satunya tersenyum. Kemudian datang lagi dan lagi, lelaki dengan Koran di tangannya. Tingkah lakunya macam-macam, pendekatannya kepadaku beraneka ragam . Mereka antri di depan pintu. Kawan-kawanku sibuk menggunjingkanku. Ada yang senang, nelangsa, marah. Bagaimanapun aku yang memang cantik ini memang saingan mereka. Si Minah merampas koran dari salah seorang lelaki dan merobek-robeknya, kemudian menangis sekeras-kerasnya. Aku bingung, “Ayo, berapa lelaki merangkak diranjangku dalam sehari? Sepuluh? Dua belas ? lima belas?Atau lima orang sekaligus mau jadi babi mabuk di seputar tubuhku?” semoga aku mati sebelum hancur sama sekali. Semoga ada yang menulari Herpes ke tubuhku supaya kusebarkan ke seluruh lelaki yang datang dan meluas ke seantero kota dan seluruh negeri. Aku toh bisa menikamkan pisau ke perutku sewaktu-waktu…..
oleh : Emha Ainun Najib
Label:
Cerpen
Langganan:
Postingan (Atom)